Traveling
Seba: Simbol Syukur dan Ketaatan Masyarakat Baduy
Seba: Simbol Syukur dan Ketaatan Masyarakat Baduy

Suku Baduy merupakan salah satu komunitas adat yang masih memegang teguh tradisi leluhur ditengah arus modernisasi. Mereka bermukim di wilayah Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Masyarakat Baduy dikenal sebagai masyarakat yang hidup sederhana serta menjunjung tinggi nilai harmoni dengan alam. Kehidupan masyarakatnya menjadi cerminan kuat dari kearifan lokal Nusantara yang berlandaskan keseimbangan, kesederhanaan, serta kebersamaan.

Salah satu suku adat di Indonesia yang hingga kini masih mempertahankan tradisi dan nilai-nilai leluhur adalah Suku Baduy. Masyarakat Baduy mendiami wilayah pedalaman Provinsi Banten dan menyebut diri mereka sebagai Orang Kanekes. Mereka tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Meskipun hidup berdampingan dengan masyarakat luar, Suku Baduy secara sadar membatasi diri dari pengaruh modernisasi sebagai bentuk ketaatan terhadap adat leluhur dan upaya menjaga keseimbangan serta keharmonisan alam.

Tradisi Seba

Di tengah pesatnya arus modernisasi, masyarakat Baduy memilih untuk hidup selaras dengan alam dan menjalankan aturan adat secara konsisten. Salah satu tradisi penting yang masih dijalankan hingga kini di antaranya Tradisi Seba.

Tradisi Seba merupakan upacara tradisional yang biasa dilakukan oleh masyarakat Suku Baduy sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen selama satu tahun. Upacara ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun dan menjadi sarana silaturahmi antara masyarakat Baduy dengan pemerintah setempat. Tradisi Seba dilakukan di dua tempat, yaitu Pendopo Kabupaten Lebak dan di Kota Serang sebagai pusat Provinsi Banten. Kata Seba dalam bahasa Baduy berarti persembahan. Dalam konteks upacara ini, masyarakat Baduy mempersembahkan hasil bumi kepada pemerintah sebagai simbol rasa syukur dan ketaatan.

Upacara Seba dapat dimaknai sebagai kunjungan resmi masyarakat Baduy kepada pemerintah setelah musim panen berakhir. Tradisi ini didahului oleh upacara Kawalu, yaitu ritual ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas keberhasilan panen. Secara umum, Tradisi Seba bertujuan memohon keselamatan dan menyampaikan rasa syukur. Secara khusus, upacara ini bertujuan membawa amanat puun sebagai pemimpin adat, menyampaikan laporan, mengajukan harapan, serta menyerahkan hasil bumi.

Adat Istiadat

Selain tradisi Seba, adat istiadat Suku Baduy juga tercermin dalam sistem kepercayaan dan kehidupan sosial masyarakatnya. Masyarakat Baduy meyakini Nabi Adam sebagai leluhur mereka dan menganggap diri sebagai salah satu suku tertua di dunia. Kepercayaan yang dianut dikenal sebagai Agama Slam Sunda Wiwitan, yaitu ajaran yang dikhususkan bagi masyarakat Baduy dan tidak ditujukan untuk disebarkan kepada masyarakat luar. Ajaran ini mengakui keberadaan Allah dan Nabi Adam, sementara nabi-nabi lain dipandang sebagai saudara, dan Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai nabi penyempurna ajaran. Dalam ajaran Slam Sunda Wiwitan dikenal konsep syahadat, yang dimaknai sebagai rangkaian doa atau mantra yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi. Ajaran ini tidak mengenal praktik salat, namun tetap menjalankan puasa dan tidak memiliki kitab suci tertulis sebagaimana agama lain.





Hilmi Hikmatul Azizah

Hilmi Hikmatul Azizah adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2025



0 Komentar





Traveling Lainnya