Hadirkan Prof. Stella Christie, IKIP Siliwangi Tegaskan Pentingnya
Oleh Willi Septiani | Sabtu, 29 November 2025 19:31 WIB | 6 Views
CIMAHI – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, Ph.D., mengajak para pendidik untuk menerapkan "Goldilocks Principle" dalam penggunaan AI di kelas. Hal ini disampaikan dalam Kuliah Umum di IKIP Siliwangi, Kamis (27/11). Menurut laporan mahasiswa Willi Septiani, Prof. Stella menegaskan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan usaha kognitif. AI harus menjadi stimulan untuk generalisasi ilmu, bukan sekadar alat yang membuat siswa terbuai secara pasif. Interaksi sosial tetap menjadi kunci tak tergantikan dalam membangun nalar kritis.
CIMAHI (27/11/2025) – Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang pesat menuntut transformasi mendasar dalam dunia pendidikan. Hal ini menjadi topik utama dalam Kuliah Umum bertajuk "Pengembangan Pola Pikir Kritis dan Kreatif Melalui Teknologi AI dalam Proses Pembelajaran" yang digelar di Aula Graha Panca Bhakti, IKIP Siliwangi, Kamis (27/11).
Acara ini menghadirkan pembicara utama Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, Ph.D., yang memberikan wawasan mendalam mengenai peran teknologi dalam membentuk karakter intelektual mahasiswa dan siswa.
Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Generalisasi
Dalam paparannya, ditekankan bahwa keberhasilan pembelajaran di era modern tidak lagi diukur dari seberapa banyak siswa mampu menghafal materi. Indikator paling kuat dari internalisasi ilmu adalah kemampuan generalisasi, yaitu sejauh mana siswa mampu memahami, mengolah, dan mentransfer pengetahuan yang didapat ke dalam situasi baru atau pemecahan masalah yang belum pernah ditemui sebelumnya.
Jebakan Pasif dan Prinsip Goldilocks
Salah satu sorotan penting dalam kuliah umum ini adalah peringatan mengenai risiko penggunaan teknologi yang berlebihan. Materi pembelajaran yang disajikan dengan visual terlalu memukau atau teknologi yang serba otomatis justru berisiko membuat siswa menjadi pasif; mereka terpukau oleh teknologi namun tidak terlibat dalam proses berpikir kognitif yang mendalam.
Untuk mengatasi hal tersebut, Prof. Stella dan para akademisi menyoroti pentingnya penerapan "Goldilocks Principle". Prinsip ini menganjurkan pemanfaatan AI dalam takaran yang "pas"—cukup untuk menantang pikiran dan menstimulasi eksplorasi, tetapi tidak berlebihan hingga mematikan proses berpikir mandiri atau menggantikan usaha kognitif manusia. AI harus diposisikan sebagai alat simulasi dan skenario, bukan pengganti otak manusia.
Interaksi Sosial Tetap Menjadi Fondasi
Meskipun AI menawarkan kecanggihan, kuliah umum ini menyimpulkan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan esensi interaksi sosial. Percakapan, diskusi, dan debat tatap muka tetap menjadi fondasi utama di mana siswa membangun argumentasi dan melahirkan gagasan kreatif.
Guru kini berperan sebagai "arsitek" pembelajaran yang bertugas menyeimbangkan tiga elemen krusial: teknologi (AI), interaksi sosial, dan pemahaman konsep yang mendalam. Dengan keseimbangan ini, diharapkan teknologi AI benar-benar menjadi jembatan bagi pengembangan nalar kritis, bukan penghalang bagi kemandirian intelektual.
Willi Septiani adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2023
0 Komentar