Traveling
Aku Harus Apa?
Aku Harus Apa?

Setiap tumbuh ranum bunga tidak selamanya mekar bersamaan. Ada kalanya ia sedikit lambat dari yang lainnya, dan itu tak mengapa. Sebab, ia sedang mengusahakan tumbuh dan mekarnya. Ia akan mekar dan mewangi jika waktunya sudah tiba.

Hari itu di tengah hiruk-pikuk bisingnya pengungsian. Gemericik hujan rintik-rintik menyelimuti setiap penjuru desa. Awan kelabu tak luput dari pandangan. Suara monitor yang saling bersahutan, isak tangis dan suara ambulan silih bergantian memasuki gendang telinga.

Ada hari di mana semua terasa tidak baik-baik saja. Dan semua orang pasti pernah merasakannya. Fisik yang diselimuti kelelahan di tengah bisingnya kerumunan, hati yang mudah terpancing emosi; mudah tersinggung.

“Harusnya diumur kamu yang sekarang ini, kamu sudah memiliki seseorang yang bisa diajak dalam segala hal. Bukan hanya main-main, ikut kegiatan sana-sini.“

Di kala setengah kesadaranku antara sadar dan tidur, yang tadinya riuh suara orang-orang di sekitar seketika hening, seolah-olah terjerumus pada jurang yang amat dalam. Rasa kantuk yang tiba-tiba hilang. Air mata yang perlahan membasahi pipi. Aku merenung. Menarik diri dari kerumunan.

“Aku harus apa? Jika belum waktunya tiba, apakah aku harus memaksakan kehendak-Mu? Ataukah aku harus terjerumus pada hal yang Engkau tidak ridhoi?“ gumamku dalam hati.

Setiap tumbuh ranum bunga tidak selamanya mekar bersamaan. Ada kalanya ia sedikit lambat dari yang lainnya, dan itu tak mengapa. Sebab, ia sedang mengusahakan tumbuh dan mekarnya. Ia akan mekar dan mewangi jika waktunya sudah tiba.

Di antara riuh langkah yang kupaksakan tetap tegak, ada lelah yang hanya bisa ku sampaikan pada sunyi. Jika hari ini air mata jatuh, biarlah ia menjadi pembasuh bagi batin yang sedang ditempa. Aku tidak sedang berhenti, aku hanya sedang meraba jalan di tengah kabut, sembari menitipkan seluruh bimbangku pada dermaga ketetapan-Mu yang paling indah.

Kalimat itu terus bergema, menusuk tepat di bagian hatiku yang paling lebam. Mereka bicara seolah-olah memilih pasangan adalah perkara semudah membalikkan telapak tangan, seolah hidup ini hanyalah perlombaan siapa yang paling cepat sampai di pelaminan.

Mereka tidak pernah tahu. Mereka tidak pernah merasakan bagaimana rasanya tumbuh dari puing-puing rumah tak utuh. Mereka tak pernah melihat air mata yang runtuh di balik dinding rumah yang retak, yang membuatku bersumpah pada diri sendiri: aku tidak boleh mengulang kehancuran yang sama.

Di saat orang-orang di sekitarku berani melangkah cepat, aku memilih berhenti dan berhati-hati. Aku memilih bekerja membanting tulang dan melanjutkan pendidikan. Ya, mungkin kesibukan ini adalah bentuk pelarian. Tapi ini adalah pelarian yang jujur dan bermartabat. Ini adalah caraku menyembuhkan diri, membenahi mental, dan mempersiapkan kedewasaan yang belum sempat diajarkan oleh masa laluku.

Aku sedang berjuang agar ketika waktunya tiba nanti, aku tidak membawa luka lama ke dalam rumah yang baru. Aku sedang belajar menjadi manusia yang utuh sebelum bersanding dengan jiwa yang lain. Maka, jangan hakimi kesendirianku hanya karena kamu tidak pernah berjalan di atas duri yang selama ini kuinjak.

Dalam diam, aku memeluk lututku sendiri.

"Jika Engkau yang menanam rindu ini, maka Engkau pula yang tahu kapan ia harus berbuah," bisikku lirih.

Aku mengusap sisa hangat di pipiku. Di luar, hujan rintik-rintik mulai mereda, menyisakan aroma tanah basah yang perlahan menenangkan sesak di dada. Aku merapikan kembali pakaian dan niatku, lalu bersiap untuk bangkit.

Biarlah mereka sibuk menakar kesendirianku dengan angka-angka usia. Aku akan tetap berjalan di jalanku—merawat luka, mengejar ilmu, dan memeluk takdirku dengan kepala tegak. Sebab aku tahu, bunga yang tumbuh dari tanah yang pernah patah, kelak akan mekar dengan keindahan yang paling bertahan lama.

 

Bandung, 30 September 2026





Wyne Dwi Cahyani

Wyne Dwi Cahyani adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2024



0 Komentar





Traveling Lainnya