Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kemegahan lampu dan gedung-gedung tinggi kerap mendominasi penataan arsitektur kota saat ini. Namun, terdapat satu kawasan di Jawa Barat yang secara administratif berbatasan langsung dengan kabupaten Karawang dan Subang, yaitu Purwakarta. Kota ini banyak sekali menerima berbagai julukan, salah satunya dijuluki dengan “Kota Pensiun”, karena kota ini memiliki suasana yang tenang, minimnya kemacetan dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Di balik ketenangannya, kota ini menyimpan keindahan dengan menjaga dan mempertahankan tradisi dan budaya para leluhur suku Sunda.
Salah satunya tradisi Muru Indung Cai yang bermakna mendatangi mata air utama sebagai sumber kehidupan. Tradisi ini diperingati setiap hari jadi kota Purwakarta yang dipimpin langsung oleh Bupati dan dihadiri oleh aparat pemerintahan, generasi muda serta masyarakat luas. Tradisi Muru Indung Cai dipelopori oleh Bupati Purwakarta pada masa pemerintahan kang Dedi Mulyadi, hingga saat ini tradisi itu tetap dilanjutkan oleh kepemimpinan setelahnya. Prosesi tradisi Muru Indung Cai berlokasi di Taman Air Mancur Sri Baduga (Situ Buleud) menuju sumber mata air Cibulakan yang terletak di desa Babakan, Wanayasa. Rangkaian tradisi Muru Indung Cai dikenal dengan “Mitembeyan” yang memiliki arti ngamimitian, kegiatan ini diawali dengan menziarahi makam leluhur Purwakarta. Masyarakat mengunjungi makam tokoh pendiri Purwakarta din setiap kecamatan atau desa, kegiatan ini merupakan bentuk penghargaan pada leluhur yang telah membangun kota Purwakarta melalui kepemimpinannya.
Tradisi Muru Indung Cai dilakukan dengan mengambil air dari sembilan mata air utama yang ada di Purwakarta, air yang diambil dimasukkan ke dalam wadah bambu yang disebut Lodong oleh pemangku adat, sembilan mata air tersebut di satukan ke dalam gentong besar sebagai lambang persatuan, dan kemakmuran bagi seluruh warga. Prosesi akhir dari kegiatan Muru Indung Cai ditutup dengan penanaman pohon bersama sebagai wujud nyata untuk menjara indung cai di area sekitar mata air. Tradisi Muru Indung Cai merupakan representasi dari pelestarian lingkungan, menghargai alam dan merawat mata air sebagai sumber kehidupan.