Rempug Tarung Adu Tomat di Kampung Cikareumbi: Tradisi Budaya yang Sarat Makna
Oleh Rika Astuti | Kamis, 02 Juli 2026 17:55 WIB | 27 Views
Tomat beterbangan, tawa bergema, budaya tetap terjaga. Rempug Tarung Adu Tomat menjadi tradisi unik Cikareumbi yang memikat wisatawan dan menyatukan masyarakat.
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang beragam, salah satunya adalah tradisi Rempug Tarung Adu Tomat atau yang lebih dikenal sebagai Perang Tomat. Tradisi ini diselenggarakan di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Meskipun terlihat seperti kegiatan saling melempar tomat, tradisi ini sebenarnya memiliki makna sosial, budaya, dan ekonomi yang mendalam bagi masyarakat setempat. Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan sekaligus media untuk mempererat kebersamaan masyarakat.
Sejarah Rempug Tarung Adu Tomat
Rempug Tarung Adu Tomat mulai dikenal sejak tahun 2011 sebagai bagian dari rangkaian Hajat Buruan, yaitu upacara adat masyarakat Cikareumbi yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Tradisi ini lahir dari kepedulian terhadap para petani tomat di Lembang yang sering mengalami kerugian akibat harga tomat yang anjlok sehingga hasil panen tidak layak dijual. Tomat yang digunakan dalam perang tomat bukanlah tomat yang masih layak konsumsi, melainkan tomat yang sudah busuk atau rusak sehingga tidak memiliki nilai jual. Dengan demikian, kegiatan ini tidak menyia-nyiakan bahan pangan yang masih dapat dimanfaatkan masyarakat.
Pelaksanaan Tradisi
Pelaksanaan Rempug Tarung Adu Tomat diawali dengan berbagai prosesi adat, seperti doa bersama dan arak-arakan hasil bumi sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan. Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, peserta dibagi menjadi dua kelompok yang saling melempar tomat busuk di lapangan terbuka. Suasana menjadi meriah karena seluruh peserta mengenakan pakaian tradisional dan diiringi musik khas Sunda.
Meskipun tampak seperti permainan, kegiatan ini dilakukan dengan penuh kegembiraan dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Tidak ada unsur permusuhan di dalamnya karena perang tomat hanya bersifat simbolis sebagai media hiburan dan pelestarian budaya.
Makna Filosofis
Rempug Tarung Adu Tomat memiliki berbagai makna filosofis. Tradisi ini melambangkan pembuangan sifat-sifat buruk seperti iri hati, dendam, kesombongan, dan amarah. Setelah perang tomat selesai, masyarakat saling berjabat tangan sebagai simbol perdamaian dan persaudaraan.
Selain itu, tradisi ini menjadi bentuk solidaritas masyarakat terhadap para petani tomat. Kegiatan tersebut juga menyampaikan pesan tentang perjuangan petani yang sering menghadapi ketidakstabilan harga hasil panen. Beberapa kajian bahkan menafsirkan perang tomat sebagai simbol kritik terhadap kondisi ekonomi yang kurang berpihak kepada petani.
Nilai-Nilai yang Terkandung
Tradisi Rempug Tarung Adu Tomat mengandung berbagai nilai positif, antara lain:
1. Nilai gotong royong dalam mempersiapkan seluruh rangkaian acara.
2. Nilai solidaritas dan kebersamaan antarwarga.
3. Nilai pelestarian budaya lokal agar tetap dikenal oleh generasi muda.
4. Nilai edukasi mengenai pentingnya menghargai hasil pertanian dan kerja keras para petani.
5. Nilai pariwisata yang mampu menarik perhatian wisatawan sehingga membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
Dampak terhadap Pariwisata
Keunikan Rempug Tarung Adu Tomat menjadikan Kampung Cikareumbi sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Kabupaten Bandung Barat. Setiap penyelenggaraan acara mampu menarik banyak pengunjung, baik dari dalam maupun luar daerah. Kehadiran wisatawan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui penjualan makanan, kerajinan, serta berbagai produk lokal. Tradisi ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya Sunda kepada masyarakat yang lebih luas.
Penutup
Rempug Tarung Adu Tomat bukan sekadar kegiatan saling melempar tomat, melainkan tradisi yang mencerminkan rasa syukur, solidaritas, serta penghormatan terhadap perjuangan para petani. Melalui kegiatan ini, masyarakat Kampung Cikareumbi berhasil mempertahankan warisan budaya sekaligus menjadikannya sebagai daya tarik wisata yang bernilai edukatif. Oleh karena itu, tradisi ini perlu terus dilestarikan agar tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Lembang dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Rika Astuti adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2025
0 Komentar