Nama: Puteri Pradnya Ayutami
NIM: 22210006
Mata kuliah: Strategi Penyusunan dan Publikasi Karya Ilmiah
Dosen: Diena San Fauziya, M.Pd.
Artificial Intelligence (AI) kini semakin melekat dalam dunia pendidikan. Mulai dari chatbot untuk menjawab soal, aplikasi rangkuman bacaan, hingga sistem penilaian otomatis, semuanya memberi kemudahan bagi guru maupun siswa. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah AI selalu tepat digunakan dalam pembelajaran, atau justru ada kondisi ketika kehadirannya tidak mendukung perkembangan siswa?
Dalam kuliah umum Prof. Stella Kristi, ditekankan bahwa AI tidak perlu ditolak sepenuhnya, tetapi juga tidak boleh diterima tanpa batas. Penggunaannya harus dipertimbangkan secara cermat, sesuai konteks, tujuan, dan dampaknya terhadap proses belajar. Ada situasi ketika AI memberi manfaat besar, dan ada pula kondisi ketika peran manusia tetap jauh lebih penting.
Salah satu contoh keberhasilan penggunaan AI adalah evaluasi tulisan harian siswa kelas 3 SD di Beijing. Sistem AI mampu membaca tulisan setiap siswa setiap hari, membandingkannya dengan ribuan contoh serupa, lalu memberi komentar spesifik untuk perbaikan. Tugas seperti ini sulit dilakukan guru secara manual karena memakan waktu dan tenaga besar. Dalam kasus ini, AI bukan menggantikan guru, melainkan membantu guru memberikan umpan balik secara rutin, cepat, dan konsisten. AI bekerja efektif ketika tugas bersifat repetitif dan berskala besar, sehingga guru dapat fokus pada aspek pedagogis yang membutuhkan interaksi manusia.
Namun, keberhasilan AI tidak berarti setiap penggunaannya otomatis meningkatkan pembelajaran. Belajar sejati bukan hanya soal mendapatkan jawaban benar, tetapi memahami konsep dan mampu menerapkannya pada situasi baru. Seorang siswa mungkin bisa menghitung 3 × 4, tetapi gagal menjawab soal cerita sederhana tentang pembagian telur antara ayah dan ibu. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan generalisasi, bukan hanya ketepatan jawaban. Jika AI hanya memberi jawaban tanpa memunculkan proses berpikir, kesempatan siswa untuk membangun pemahaman mendalam bisa berkurang.
Penelitian empiris juga mendukung pentingnya interaksi manusia dalam belajar. Studi Patricia Kuhl menemukan bahwa bayi Amerika yang belajar bahasa Mandarin secara langsung dari penutur asli mengalami perkembangan fonem yang signifikan. Sebaliknya, bayi yang belajar melalui video tidak mengalami peningkatan berarti. Interaksi sosial langsung memiliki kekuatan yang tidak bisa digantikan teknologi, betapapun canggihnya.
Di dunia pendidikan, tren teknologi sering diadopsi tanpa meninjau efektivitasnya secara ilmiah. Misalnya, media pembelajaran visual atau virtual reality memang menarik, tetapi penelitian menunjukkan pengalaman yang terlalu imersif bisa mengalihkan fokus dari konsep inti. Alat peraga sederhana justru sering membantu pemahaman konsep secara lebih mendalam. Pembelajaran yang efektif membutuhkan tantangan dengan tingkat kesulitan yang pas—tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit—agar proses berpikir benar-benar bekerja.
Saat ini banyak siswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas. Larangan tidak terbukti efektif karena siswa tetap menemukan cara untuk mengakses teknologi tersebut. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan siswa tetap berpikir selama proses belajar. Yang berbahaya bukan AI-nya, tetapi ketika siswa menerima hasil tanpa mengevaluasi, tanpa menimbang kualitas, dan tanpa melalui proses intelektual. Jika ini berlangsung terus-menerus, siswa hanya menguasai pengetahuan permukaan tanpa kemampuan menilai dan berpikir kritis.
Karena itu, AI tidak perlu dihindari, tetapi penggunaannya harus diarahkan agar siswa tetap terlibat aktif. Misalnya, tugas membuat gambar lewat AI dapat dibuat lebih kritis dengan mewajibkan siswa menghasilkan beberapa variasi, membandingkannya, menjelaskan alasan memilih hasil terbaik, serta menuliskan perubahan prompt yang dilakukan. Dengan cara ini, AI menjadi alat pendukung proses berpikir, bukan pengganti proses tersebut.
Kesimpulannya, pendidikan di era AI bukan tentang memilih menolak atau menerima teknologi, tetapi memastikan manusia tetap menjadi pusat pembelajaran. Tujuan pendidikan bukan hanya memberi informasi, tetapi membentuk kemampuan berpikir kritis, menilai kualitas, menghargai estetika, serta memiliki nilai dan moral. AI dapat memperluas akses dan efisiensi pembelajaran, tetapi interaksi sosial, refleksi diri, dan pengalaman belajar yang humanis tetap menjadi fondasi utama pembentukan intelektual dan karakter siswa. Pertanyaan yang selalu perlu diingat bukan “apakah kita harus menggunakan AI?”, tetapi “dalam konteks apa AI membantu pembelajaran, dan dalam konteks apa peran manusia tidak boleh tergantikan?”.