Harmoni Kehidupan Di Tepi Waduk Saguling
Oleh Lilis Nuraeni | Selasa, 23 Juni 2026 13:30 WIB | 22 Views
Menyusuri kearifan lokal dan denyut nadi kehidupan masyarakat di tepi Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat. Sebuah harmoni antara nelayan, tradisi gotong royong, dan tantangan pelestarian lingkungan masa kini.
Pagi masih sangat buta ketika kabut tipis menyelimuti permukaan air Waduk Saguling. Di Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, kesunyian fajar perlahan pecah oleh suara halus mesin perahu kayu milik warga. Bagi masyarakat setempat, waduk buatan yang membendung aliran Sungai Citarum ini bukan sekadar genangan air raksasa, melainkan detak jantung kehidupan mereka.
Seiring matahari yang mulai meninggi, suasana sejuk berubah menjadi geliat aktivitas ekonomi. Satu per satu nelayan tradisional mulai mendayung ke tengah perairan. Di sudut lain, hamparan keramba jaring apung (KJA) tampak berjejer rapi, menjadi saksi bisu bagaimana waduk ini bertransformasi menjadi lumbung perikanan darat yang menghidupi ratusan kepala keluarga. Menangkap dan membudidayakan ikan bukan lagi sekadar pekerjaan, melainkan warisan turun-temurun yang menyambung napas dapur mereka.
Namun, daya tarik sejati dari tepi Saguling bukan hanya pada potensi alamnya, melainkan pada manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Di tengah gempuran modernisasi, masyarakat Saguling tetap teguh merawat nilai kebersamaan. Gotong royong masih menjadi hukum tidak tertulis; ketika satu jaring nelayan rusak atau ada warga yang tertimpa musibah, tangan-tangan tetangga akan langsung terulur tanpa diminta. Hubungan emosional yang erat dengan alam secara tidak langsung membentuk karakter masyarakat yang ramah dan saling menjaga.
Kini, Waduk Saguling telah melekat sebagai identitas dan kebanggaan masyarakat setempat. Namun, tantangan masa depan kini membentang di depan mata. Pencemaran dan sampah menjadi ancaman nyata yang menuntut kepedulian generasi muda untuk bergerak melakukan perubahan melalui Pendidikan lingkungan.
Melalui komunitas belajar lokal, anak-anak nelayan di sini kini mulai fokus pada pengembangan diri dan literasi. Mereka belajar memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk mengolah limbah dan menjaga ekosistem perairan. Kesadaran baru ini menjadi bukti bahwa merawat waduk hari ini adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa generasi Saguling di masa depan tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga mampu menjaga keindahan alam tanah kelahiran mereka.
Lilis Nuraeni adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2025
0 Komentar