Ragam
PIRING TERBANG: KENANGAN MASA KECIL DI TENGAN RIUH PESTA
PIRING TERBANG: KENANGAN MASA KECIL DI TENGAN RIUH PESTA

Budaya makan yang ada dalam pernikahan menjadi kenangan masa kecil seorang anak.

           Pernikahan dalam keluarga selalu menjadi hari yang paling ditunggu, bukan hanya oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Pada momen ini seluruh keluarga berkumpul. Rumah dipenuhi tawa, percakapan, dan keramaian yang hangat. Di balik suasana itu, ada kebahagiaan kecil yang selalu membekas dalam ingatan. Salah satunya adalah saat makanan mulai datang beriringan, dibawa oleh tangan-tangan sibuk di tengah riuh suara keluarga.

            Jamuan makan saat pernikahan masa kini umumnya disajikan secara prasmanan, berbeda dengan tradisi piring terbang. Dalam tradisi ini, makanan tidak diambil sendiri oleh tamu, melainkan diantarkan langsung satu persatu oleh para pramusaji, jika pada prasmanan tamu menghampiri makanan, maka dalam tradisi piring terbang, makananlah yang menghampiri tamu.

            Tridisi ini hadir sebagai penghormatan kepada tamu acara. Dalam adat Jawa, khususnya di wilayah Solo dan sekitarnya tempat tradisi ini berkembang, tamu dianggap sebagai raja. Karena itu, setiap orang cukup duduk dan menunggu hidangan datang untuk disajikan. Cara ini menjadi keunikan tersendiri dalam penyajian makanan pada pentas pernikahan.

            Piring terbang dalam pelaksanannya memiliki urutan penyajian yang dikenal dengan istilah USDEK:

  1. U (Ujukan) = Minuman selamat datang (biasanya disajikan teh manis hangat, selain itu ditemani pula dengan jajanan misalnya sosis solo, risol, kroket, atau bolu)
  2. S (Sop) = Hidangan pembuka (biasanya disebut sop manten, makanan itu selalu menjadi yang di tunggu - tunggu)
  3. D (Daharan) = Makanan utama (berisi nasi dan lauknya yang paling di ingat adalah sambal goreng.)
  4. E (Es) = Hidangan penutup (dapat berupa es krim, es buah, es puter. Disajikannya menjelang akhir pesta)
  5. K (Kundur) = Penutup (biasanya penanda jamuan sudah selesai, tetapi walau sudah selesai terkadang tidak langsung pulang)

          Bagi anak – anak, tradisi ini selalu menjadi bagian yang paling dinantikan. Selain merasa senang, sebelum makanan datang anak – anak biasanya sering mengintip, menebak – nabak menu yang disajikan. Ada yang berbisik “Sop Manten ene ra ya?” lalu dibalas oleh temannya yang lain “Aku maunya soto, pasti enak” ada pula yang sengaja duduk dengan tenang, berharap menjadi orang pertama yang menerima hidangan. Mereka juga memperhatikan bagaimana piring – piring itu “terbang” di antara kerumunan tamu, dibawa oleh para pramusaji.

            Saat ini, ketika pesta pernikahan lebih banyak menggunakan system prasmanan, tradisi priring terbang perlahan menjadi kenangan lama. Namun, bagi beberapa orang yang pernah tumbuh di Tengan riuh pesta keluarga, suara langkah pramuasaji dan piring – piring melintas di atas kepala akan selalu menjadi bagian dari masa kecil yang tak mudah dilupakan. Tradisi ini mungkin perlahan berubah, tapi kenangannya tetap tinggal, seperti rumah yang selalu dapat dikenang meski telah lama ditinggalkan.

 





Melysa Kurnia Sari

Melysa Kurnia Sari adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2025



0 Komentar





Ragam Lainnya