Ragam
Kita Hidup Dimana Mengucapkan kata
Kita Hidup Dimana Mengucapkan kata "Permisi" Semakin Sulit Rasanya

Dalam hidup bersosial, kita semakin piawai menjadi asing di tengah keramaian. Rasanya ironis saat kita bangga dengan predikat "bangsa paling ramah", namun untuk sekadar berucap "permisi" saat numpang lewat saja bebannya seberat memikul urusan negara. Lucunya, banyak orang mendadak jadi pejuang privasi garis keras hanya karena malas menyapa. Padahal, bilang "permisi" bukan berarti mau ikut campur urusan dapur orang lain; itu hanyalah kode etik manusiawi agar kita tidak dianggap objek asing yang nyelonong begitu saja. Menjadi modern bukan berarti harus amnesia pada etika dasar. Jangan sampai kita baru menyadari harga sebuah sapaan ketika lingkungan sudah berubah sunyi, di mana setiap orang hanya menjadi bayangan yang lewat tanpa makna.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak lepas dari hidup bersosial, namun seiring berkembangnya zaman, kita hidup di era di mana jempol begitu lincah mengetik "permisi" saat ingin masuk ke grup WhatsApp atau kolom komentar, tetapi lidah kaku seketika ketika mengucapkan "Permisi" atau "Punteun" bagi orang sunda. Seolah-olah, mengucapkan kata tersebut terdengar asing atau langka rasanya.

Padahal, permisi ialah instrumen sosial dalam membangun rasa silahturami dengan satu sama lain. Menjadi makhluk yang modern bukan berarti harus menjadi individualis yang lupa pada etika sederhana. Sungguh ironis rasanya melihat masyarakat yang bangga dengan predikat "bangsa paling ramah", namun untuk sekadar memberi kode lewat suara saat numpang lewat saja rasanya seberat memikul beban negara. Jika untuk menghargai ruang orang lain saja kita mulai pelit, jangan heran jika lambat laun lingkungan kita bukan lagi menjadi tempat tinggal yang hangat, melainkan sekadar deretan bangunan yang dihuni oleh orang-orang asing yang dipenuhi dengan rasa saling curiga.

Sebagai orang kota yang lahir dan hidup di kota dengan perkembangannya yang luar biasa, aneh rasanya jika kita sanggup menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempercantik diri dan membeli pakaian yang modis agar terlihat stylish dan keren dimata umum. tapi lupa cara mempercantik lisan dengan kata sesederhana "permisi". Seolah-olah, membungkukkan badan sedikit saja saat lewat akan merusak struktur tulang belakang atau membuat martabat kita anjlok seketika. Kita jadi generasi yang lebih takut dibilang tidak keren daripada dibilang tidak sopan, seolah-olah bersikap cuek dan masa bodoh adalah syarat mutlak untuk menjadi manusia modern yang berkelas.

Lucunya lagi, banyak dari kita yang mendadak jadi pejuang privasi garis keras hanya karena malas menyapa. Padahal, bilang "permisi" itu bukan berarti mau ikut campur urusan orang apalagi numpang makan di rumah tetangga. Itu hanyalah bagian dari etika yang sederhana namun manusiawai agar orang lain tidak kaget ada objek asing yang tiba-tiba nyelonong masuk ke radarnya. Namun kenyataannya, di trotoar atau gang, kita lebih sering adu mekanik siapa yang paling jago pura-pura tidak melihat, padahal bahu sudah hampir bersenggolan.

Pada akhirnya, kita terjebak dalam kompetisi menjadi yang paling individualis. Kita merasa sudah cukup menjadi warga negara yang baik hanya dengan tidak melanggar hukum, tapi pelit sekali dalam beretika. Padahal, apa gunanya hidup di lingkungan yang katanya "beradab" kalau untuk mengeluarkan suara sependek "punten" saja harus menunggu instruksi dari ChatGpt? Mungkin sebentar lagi kita butuh aplikasi khusus atau notifikasi ponsel hanya untuk mengingatkan bahwa ada manusia bernapas di sebelah kita yang layak diberi salam.

Sebagai penutup, mungkin ini saatnya kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apakah kita ingin diingat sebagai generasi yang sukses secara materi, namun gagal dalam hal yang paling mendasar? Menjaga kelestarian kata "permisi" atau "punteun" bukan hanya soal mempertahankan tradisi lama, melainkan soal merawat kewarasan kita sebagai makhluk sosial di tengah dunia yang semakin egois. Jangan sampai kita baru menyadari harga sebuah sapaan ketika lingkungan kita sudah berubah menjadi sunyi, di mana setiap orang hanya menjadi bayangan yang lewat tanpa makna. Karena pada akhirnya, peradaban sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa tinggi gedung yang dibangunnya, melainkan dari seberapa rendah hati penduduknya saat berpapasan satu sama lain.





Stevanus Saro Harefa

Stevanus Saro Harefa adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2025



0 Komentar





Ragam Lainnya