Ragam
Tradisi Lebaran di Indonesia yang Terus Hidup Namun Tidak Lagi Menghidupkan
Tradisi Lebaran di Indonesia yang Terus Hidup Namun Tidak Lagi Menghidupkan

Lebaran selalu kita sambut sebagai hari pulang ke rumah, ke keluarga, ke diri yang ingin dimurnikan. Namun di tengah pelukan yang berulang dan kata maaf yang terucap saban tahun, lebaran kerap terasa tetap ramai tetapi tidak sepenuhnya menghangatkan. Ritual dijalankan dengan setia, sementara maknanya perlahan menipis. Kita bersilaturahmi tanpa benar-benar hadir, saling memaafkan tanpa sempat berhenti dan merenung. Sungkeman dipercepat oleh jadwal, kebersamaan dipadatkan dalam bingkai foto, dan keheningan batin tergeser oleh kebisingan. Lebaran pun berjalan seperti rutinitas yang dihafal, bukan pengalaman yang dihayati. Tulisan ini mengajak pembaca menengok kembali lebaran sebagai ruang jeda tempat manusia melambat, menunduk, dan berani hadir sepenuhnya. Sebab mungkin yang memudar bukanlah tradisinya, melainkan perhatian kita terhadap makna yang ia simpan.

Lebaran selalu dianggap sebagai puncak kebahagiaan kolektif di Indonesia. Sebuah momentum yang harusnya penuh pelukan, maaf yang tulus, dan perayaan kembali menjadi manusia yang lebih bersih. Namun semakin ke sini, lebaran terasa seperti album tahunan yang halaman-halamannya terus terisi, tetapi isinya makin hampa. Kita masih menjalankan ritualnya, tetapi tanpa kehadiran batin. Kita masih tersenyum, tetapi tanpa percakapan yang tulus. Kita masih memaafkan, tetapi sering tanpa refleksi. Lebaran tetap ramai, tetapi keramaiannya justru menutup kekosongan itu sendiri.

Apa yang sebetulnya sedang terjadi pada tradisi lebaran kita?

1. Tradisi yang Tidak Hilang, Tetapi Tidak Lagi Menghidupkan

Jika kita melihat foto-foto lebaran masa lalu yang warnanya sedikit pudar, dengan ekspresi keluarga yang apa adanya kita mungkin merasakan kehangatan yang seolah tak bisa ditemukan lagi hari ini. Namun menariknya, tradisi fisik lebaran justru tidak hilang. Kita masih melakukan semua hal yang sama:

  • Shalat Ied dengan pakaian terbaik
  • Sungkeman di pagi hari
  • Silaturahmi dari rumah ke rumah
  • Ketupat dan opor yang selalu mengepul
  • Baju yang dipilih khusus
  • Foto keluarga yang rutin dilakukan

Tradisinya masih setia. Tetapi emosinya tidak.

Dulu, sungkeman adalah proses panjang: kita menunduk, menahan tangis, meminta maaf dengan suara yang kadang pecah. Sekarang, sering kali ia berubah menjadi rangkaian gestur cepat. Kita lakukan sekadar karena “memang begitu urutannya.” Tangan orang tua digenggam hanya beberapa detik, lalu kita buru-buru bergerak ke yang berikutnya.

Masalahnya bukan pada ritualnya. Masalahnya pada bagaimana kita menghadapinya: dengan tubuh yang hadir, tetapi pikiran yang berkelana.

 

2. Keramaian yang Tidak Menyentuh

Ironinya, semakin ramai lebaran, semakin kosong ia terasa. Barangkali karena keramaian itu tidak lagi dibangun oleh percakapan, tetapi oleh notifikasi. Kita duduk dalam satu ruang keluarga, tetapi perhatian tidak lagi saling menyentuh. Kita bersama, tetapi tidak terhubung. Setiap momen didokumentasikan, tapi jarang dihayati. Setiap tawa direkam, tapi jarang terasa. Fenomena ini terlihat jelas saat sesi makan besar. Banyak keluarga kini lebih fokus memastikan meja terlihat rapi di kamera daripada merawat percakapan yang terjadi di sekitarnya. Kita menata makanan untuk foto, bukan untuk disantap bersama dalam suasana penuh cerita. Dalam dunia yang berlari cepat, kehadiran menjadi barang langka. Dan tradisi yang membutuhkan kehadiran pun perlahan kehilangan ruh.

 

3. Perubahan Makna Sungkeman: Dari Kesunyian Emosional ke Formalitas Tahunan

Di masa lalu, sungkeman sering menjadi titik paling emosional dalam lebaran. Ia bukan sekadar gerakan tubuh, tetapi perjalanan batin. Anak meminta maaf sambil mengingat kembali kesalahan, orang tua memaafkan sambil mengenang perjuangan mereka membesarkan anaknya. Ada kesunyian emosional yang mengalir di dalamnya. Namun sekarang, sungkeman lebih mirip bagian pembuka dari rangkaian panjang yang harus diselesaikan. Ada target rumah yang harus dikunjungi, ada foto yang harus diambil, ada jadwal yang harus dikejar. Sungkeman menjadi ritual logistik, bukan ruang kontemplatif. Padahal, pada titik itulah esensi lebaran terjadi: ketika manusia berhenti, menunduk, dan mengakui bahwa ia pernah salah. Ketika jeda itu hilang, makna turut hilang

 

4. Budaya Estetika yang Menggerus Kedalaman

Tidak bisa dihindari bahwa media sosial mengubah cara kita merayakan apapun, termasuk lebaran. Namun pengaruh paling besar bukan pada kegiatan memotretnya, melainkan pada cara kita memaknai lebaran sebagai sesuatu yang harus terlihat indah. Rumah dibereskan bukan untuk membuat tamu nyaman, tetapi agar latar foto rapi. Keluarga memakai baju seragam bukan karena kebersamaan, tapi karena tone warnanya estetik. Takjil dan kue kering ditata bukan untuk dinikmati, tetapi untuk feed. Tradisi berubah menjadi pajangan. Alih-alih ruang untuk berdialog, lebaran menjadi panggung untuk tampil. Kita menunjukkan bahwa hidup kita baik-baik saja—even jika sebenarnya tidak. Kita memotret kebersamaan, lalu membiarkan percakapan dalam keluarga tetap dangkal. Ada pergeseran yang halus tetapi menyakitkan: Dulu, lebaran adalah soal keintiman. Sekarang, ia sering menjadi soal impresi.

 

5. Maaf yang Ditukar dengan Formalitas

Tradisi saling memaafkan seharusnya menjadi titik balik. Tetapi dalam praktiknya, banyak orang mengucapkan “mohon maaf lahir batin” seperti password tahunan. Kita tidak benar-benar menata ulang hubungan. Kita tidak membuka percakapan yang selama ini kita hindari. Maaf menjadi ritual tanpa refleksi dan itu berbahaya. Karena tanpa refleksi, manusia tidak berubah. Pada akhirnya, kita berdamai hanya melalui kata-kata, bukan melalui keberanian untuk jujur. Kita membersihkan meja makan, tetapi tidak membersihkan hati. Kita memaafkan, tetapi tidak menyelesaikan. Kita mengulang kata-kata yang sama, tetapi tidak mengubah pola yang sama. Makna maaf menjadi terfragmentasi, terpotong-potong oleh kesibukan, oleh gengsi, oleh rasa canggung yang tidak pernah diurai.

 

6. Lebaran sebagai Mesin Waktu yang Mengulang Tanpa Evolving

Jika kita memperhatikan, struktur lebaran nyaris tidak berubah dari tahun ke tahun. Ia seperti mesin waktu yang memutar ulang adegan yang sama. Namun justru karena terlalu familiar, kita menjalankannya tanpa kesadaran.

 

  • Shalat Ied dilakukan karena sudah rutin.
  • Silaturahmi dilakukan karena “memang harus.”
  • Sungkeman dilakukan karena menjadi bagian dari urutan.
  • Foto keluarga dilakukan karena menjadi tradisi baru.

Kita jarang bertanya: Untuk apa semua ini? Apa maknanya bagiku sekarang? Tradisi yang tidak dipertanyakan akan kehilangan maknanya. Karena makna hanya hadir ketika manusia memberi perhatian.

 

7. Faktor Penyebab: Kenapa Tradisi Lebaran Terasa Kosong?

  • Modernitas yang Mempercepat Ritme Hidup

Kita hidup dalam dunia yang serba cepat. Kecepatan ini membuat kita sulit memupuk rasa. Tradisi membutuhkan waktu yang melambat—sesuatu yang kini dianggap mewah.

  • Fragmentasi keluarga

Hubungan keluarga sekarang lebih cair tetapi juga lebih rapuh. Banyak keluarga bertemu hanya saat lebaran, sehingga hubungan emosional terasa seperti tamu yang asing.

  • Teknologi yang mencuri fokus

Gawai membuat kita hadir secara fisik tetapi absen secara mental.

  • Tradisi yang tidak disertai refleksi

Ritual tanpa kesadaran mudah berubah menjadi rutinitas tanpa jiwa.

  • Ekspektasi sosial yang meningkat

Lebaran bukan lagi hanya perayaan batin, tetapi ajang menampilkan “keberhasilan.” Hal ini membuatnya lebih melelahkan daripada menghangatkan.

 

8. Kritik: Tradisi yang Bertahan Tetapi Tidak Mempertahankan Kita

Inilah kritik utamanya:

Tradisi lebaran masih bertahan secara bentuk, tetapi tidak lagi mempertahankan manusia secara emosional. Tradisi seharusnya menjadi jembatan bukan dekorasi. Ia seharusnya menyatukan, bukan sekadar mengumpulkan. Ia seharusnya menjadi ruang kontemplatif, bukan sekadar simbol tahunan. Ketika tradisi hanya dijalankan, bukan dihayati, ia berubah menjadi budaya kosong yang terus dipertontonkan.

 

 

 

 

9. Mungkinkah Makna Itu Kembali?

Tentu. Tetapi bukan dengan menghilangkan ritual, melainkan dengan mengisi ulang batinnya. Makna tidak hilang; ia hanya tertutup oleh kebisingan.Untuk mengembalikan makna, kita perlu:

  • melambat sejenak
  • menatap orang tua dan keluarga dengan kesadaran baru
  • membuat percakapan lebih jujur
  • berhenti memotret selama beberapa menit untuk benar-benar merasakan
  • bertanya lagi pada diri sendiri: aku datang ke sini untuk apa?

Tradisi yang diberi perhatian akan kembali bernyawa.

 

10. Penutup: Lebaran Tidak Kosong, kita yang Menjauhi Keheningannya

Pada akhirnya, tradisi tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu manusia untuk kembali hadir. Lebaran tetap datang dengan ketupatnya, dengan salat Ied-nya, dengan sungkemannya yang sakral. Yang memudar bukan tradisinya, melainkan perhatian kita. Lebaran adalah perjalanan pulang tetapi bukan hanya pulang ke rumah, melainkan pulang ke diri sendiri. Dan barangkali, lebaran akan kembali penuh ketika kita berani hadir, dengan segala luka, kerinduan, dan ketulusan yang semestinya menyertai hari kemenangan. Sebab makna bukan sesuatu yang diberikan tradisi kepada kita. Makna adalah sesuatu yang kita hidupkan atau kita biarkan kosong.





Halwah Shahifah Al Madani

Halwah Shahifah Al Madani adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2023



0 Komentar





Ragam Lainnya