Pendidikan
Pengembangan Pola Pikir Kritis dan Kreatif Melalui Teknologi AI dalam Pembelajaran
Pengembangan Pola Pikir Kritis dan Kreatif Melalui Teknologi AI dalam Pembelajaran

Narasumber: Prof. Stella Christine, Ph.D. Mata Kuliah: Strategi Penulisan dan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Dosen Pengampu: Diena San Fauziya, M.Pd. Kuliah umum yang disampaikan Prof. Stella Christine, Ph.D. membahas bagaimana teknologi AI dapat membantu mengembangkan pola pikir kritis dan kreatif dalam proses pembelajaran. Beliau menekankan bahwa AI berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti guru. AI bermanfaat untuk mempercepat analisis tugas, memberikan umpan balik detail, mengefektifkan pekerjaan teknis, dan menyesuaikan materi dengan kebutuhan siswa. Namun interaksi manusia tetap menjadi inti pembelajaran karena perkembangan kognitif sangat bergantung pada kontak sosial langsung. Prof. Stella juga mengingatkan bahwa visual yang terlalu ramai dapat membebani kognisi anak usia dini, sehingga materi perlu dirancang sederhana dan fokus pada konsep inti. Sinopsis ini menegaskan bahwa AI hanya berdampak positif jika digunakan secara tepat, sesuai konteks, dan tetap berpusat pada hubungan manusia dalam belajar.

Penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau AI dalam dunia pendidikan telah menjadi topik yang semakin penting pada era digital saat ini. Dalam kuliah umum yang disampaikan oleh Prof. Stella Christine, Ph.D., mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana AI dapat menjadi alat pendukung yang kuat dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Bukan sebagai pengganti pendidik, AI hadir sebagai mitra yang dapat memperluas, memperkuat, dan mempercepat berbagai aktivitas pendidikan.

Prof. Stella menjelaskan bahwa salah satu manfaat paling nyata dari penggunaan AI adalah kemampuannya memberikan umpan balik yang cepat dan detail. Beliau mencontohkan penerapan AI dalam menilai tugas siswa sekolah dasar kelas tiga. Teknologi ini dapat mendeteksi kesalahan sederhana sekaligus kesalahan kompleks seperti pengulangan kalimat, penggunaan huruf yang tidak konsisten, atau gaya bahasa yang kurang sesuai. Dengan koreksi yang akurat, siswa dapat memperbaiki tulisan secara langsung, sedangkan guru dapat menghemat waktu untuk fokus pada pembelajaran yang bersifat kreatif dan humanis.

Meskipun begitu, Prof. Stella menekankan bahwa AI tidak seharusnya digunakan secara serampangan. Teknologi ini memang unggul dalam memproses data dalam jumlah besar dan memberikan analisis cepat, tetapi keputusan akhir tetap harus berada di tangan pendidik. AI hanyalah alat bantu, bukan pengambil alih fungsi. Jika digunakan tanpa mempertimbangkan konteks, kebutuhan siswa, atau tujuan pembelajaran, keberadaan AI malah dapat menurunkan kualitas pembelajaran itu sendiri.

Dalam pemaparannya, Prof. Stella mengingatkan bahwa esensi belajar tetap terletak pada interaksi manusia. Ia menggambarkan bagaimana perkembangan otak manusia sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial langsung. Bayi misalnya memiliki kemampuan alami untuk mengenali seluruh bunyi bahasa di dunia, namun kemampuan itu akan menyusut jika mereka tidak mendapatkan stimulasi sosial nyata. Interaksi melalui layar seperti video atau rekaman tidak memberikan efek yang sama dalam perkembangan neurologis. Oleh karena itu, AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti hubungan manusia yang menjadi dasar utama pembelajaran.

Lebih jauh, Prof. Stella membahas mengenai tampilan visual dalam media pembelajaran. Menurutnya, materi yang terlalu penuh warna atau terlalu menarik justru bisa mengganggu fokus anak usia dini. Gambar yang lucu atau sangat berwarna dapat menambah beban kognitif sehingga anak lebih sibuk memperhatikan tampilannya daripada mempelajari konsep yang diajarkan. Materi pembelajaran yang efektif justru adalah materi yang sederhana, jelas, dan fokus pada konsep penting yang ingin disampaikan.

Melalui kuliah umum ini, Prof. Stella menegaskan bahwa keberhasilan pemanfaatan AI dalam pendidikan sepenuhnya bergantung pada pola pikir penggunaannya. Jika teknologi ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa, maka AI dapat memberikan dampak besar. Namun jika hanya digunakan sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan administratif atau digunakan tanpa memahami kebutuhan siswa, maka manfaatnya tidak akan terasa.

Pada akhirnya, AI adalah alat bantu inovatif yang dapat memperluas ruang gerak pendidik, tetapi tidak dapat menggantikan sentuhan manusia yang menjadi inti dari aktivitas belajar. Kolaborasi harmonis antara teknologi dan manusia inilah yang menjadi kunci terciptanya pembelajaran yang lebih efektif, bermakna, dan berkelanjutan.

 





Putri Nur Islami

Putri Nur Islami adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2023



0 Komentar





Pendidikan Lainnya