“Pengembangan Pola Pikir Kritis dan Kreatif melalui Teknologi AI dalam Proses Pembelajaran
Oleh Riska Dini Fatimah | Jum'at, 28 November 2025 22:07 WIB | 20 Views
Warta pelaksanaan Kuliah umum yang menghadirkan Prof. Stella Christie, Ph.D., ilmuwan kognitif Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) IKIP Siliwangi, saya berkesempatan mengikuti sebuah kuliah umum bertema “Pengembangan Pola Pikir Kritis dan Kreatif melalui Teknologi AI dalam Proses Pembelajaran.” Acara ini terhubung dengan mata kuliah Strategi Penyusunan dan Publikasi Karya Ilmiah yang dibimbing oleh Ibu Diena San Fauziya, M.Pd., sehingga apa yang kami pelajari di kelas terasa semakin relevan dengan praktik nyata di dunia pendidikan.
Kuliah umum ini menghadirkan Prof. Stella Christie, Ph.D., ilmuwan kognitif Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam sesi tersebut beliau memaparkan pandangannya tentang bagaimana kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi bagian penting dalam pembelajaran, bukan hanya sebagai tren baru, tetapi sebagai alat yang bisa mendukung cara belajar generasi masa kini.
Prof. Stella menjelaskan bahwa AI mampu memberikan dukungan belajar yang lebih cepat karena dapat menawarkan umpan balik secara langsung. Ia mencontohkan pengalaman putranya yang mendapatkan evaluasi harian dari AI pada tugas menulisnya, sesuatu yang tidak selalu dapat dilakukan oleh guru karena keterbatasan waktu.
Meski begitu, Prof. Stella menekankan bahwa teknologi tidak bisa menggantikan peran pendidik. Menurutnya, guru dan dosen tetap menjadi figur utama yang memberikan bimbingan, makna, dan empati, hal-hal yang tidak dapat digantikan oleh mesin. AI justru membuka ruang bagi manusia untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis dan kreatif, dua keterampilan inti yang sangat dibutuhkan saat ini.
Beliau juga mengingatkan bahwa penggunaan AI tetap harus disikapi dengan hati-hati. Tidak semua teknologi membawa dampak positif, dan beberapa justru dapat mengurangi interaksi antarmanusia jika digunakan tanpa pertimbangan. Karena itu, pemanfaatan AI perlu dilakukan secara seimbang dan tidak berlebihan.
Bagi kami mahasiswa PBSI, terutama yang sedang mempelajari penulisan dan publikasi ilmiah, paparan Prof. Stella memberikan wawasan baru tentang pentingnya berani mencoba, berinovasi, dan menulis secara konsisten. Pesan ini sejalan dengan apa yang ditegaskan Bu Diena bahwa publikasi ilmiah bukan hanya latihan akademik, tetapi juga bentuk kontribusi yang bisa diberikan mahasiswa kepada masyarakat.
Kuliah umum ini mengingatkan kami bahwa berkembangnya teknologi bukan berarti peran manusia berkurang. Justru di era AI kapasitas berpikir manusia perlu diperkuat. Mahasiswa didorong untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu agar proses belajar menjadi lebih efektif tanpa melupakan nilai-nilai kemanusiaan yang selalu menjadi inti pendidikan.
Riska Dini Fatimah adalah mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Siliwangi. Ia memiliki ketertarikan besar pada dunia literasi, terutama dalam membaca dan mengkaji karya sastra modern. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Riska juga gemar traveling dan mendaki gunung, dua kegiatan yang menurutnya sama-sama membuka cakrawala, baik secara fisik maupun batin.
0 Komentar