Aula Graha Panca Bhakti IKIP Siliwangi menjadi pusat perhatian pada Rabu, 26 November 2025, saat Prof. Stella Christie, Ph.D., memberikan kuliah umum yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa, termasuk mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Acara ini membahas secara lugas bagaimana teknologi Artificial Intelligence (AI) sebaiknya digunakan dalam proses pembelajaran agar tidak hanya menghasilkan hafalan, tetapi benar-benar mendorong pemahaman siswa. Dalam pemaparannya, Prof. Stella menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh menjadikan pembelajaran sekadar mengingat materi. Menurutnya, inti dari belajar adalah kemampuan siswa untuk memahami konsep dan menerapkannya pada situasi baru. “Kalau siswa bisa memindahkan konsep ke konteks lain yang belum pernah mereka temui, itu tandanya mereka benar-benar paham,” ujar Prof. Stella
Ia juga mengingatkan bahwa tampilan visual yang menarik atau penggunaan teknologi canggih belum tentu membuat siswa aktif berpikir. Banyak pembelajaran yang terlihat modern justru membuat siswa pasif karena hanya terpukau oleh tampilan, bukan mengolah informasi. “Keren itu tidak selalu berarti paham. Yang kita butuhkan adalah proses pikir siswa, bukan sekadar tontonan,” tambahnya.
Terkait penggunaan AI, Prof. Stella menekankan bahwa teknologi ini bisa membuka ruang belajar yang lebih luas, mulai dari simulasi hingga tantangan yang tidak tersedia dalam buku teks. Namun, ia mengingatkan bahwa AI tidak boleh menjadi jalan pintas untuk mendapatkan jawaban instan karena hal tersebut justru melemahkan kemampuan berpikir mandiri siswa. Untuk itu, ia memperkenalkan Goldilocks Principle sebagai panduan penggunaan teknologi tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit, tetapi pas sesuai kebutuhan pembelajaran. Menurutnya, keseimbangan adalah kunci agar AI dapat mendukung proses belajar tanpa mengambil alih peran utama siswa untuk berpikir.
Di akhir sesi, Prof. Stella menegaskan bahwa teknologi tidak bisa menggantikan interaksi manusia. Diskusi, tanya jawab, dan saling bertukar gagasan tetap menjadi fondasi penting dalam membangun pola pikir kritis dan kreatif. “AI itu alat bantu. Yang membangun pemahaman tetaplah manusia melalui percakapan dan pemikiran,” jelasnya.
Kuliah umum ini menjadi wawasan penting bagi mahasiswa, khususnya dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dalam memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara bijak di dunia pendidikan. Acara ditutup dengan sesi diskusi yang berlangsung hangat antara peserta dan pemateri.