Sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) IKIP Siliwangi dalam mata kuliah Strategi Penyusunan dan Publikasi Karya Ilmiah bersama Ibu Diena San Fauziya, M.Pd., saya mengikuti kuliah umum inspiratif bertema “Pengembangan Pola Pikir Kritis dan Kreatif melalui Teknologi AI dalam Proses Pembelajaran” yang disampaikan langsung oleh Prof. Stella Christie, Ph.D, seorang ilmuwan kognitif Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Prof. Stella membuka sesi dengan sebuah pesan sederhana: AI bukan ancaman, tapi alat bantu. Menurutnya, selama manusia tetap memegang kendali pikiran kritis dan kreativitas, AI justru dapat menjadi partner terbaik dalam proses belajar. Beliau menekankan bahwa dua kemampuan tersebut kritis dan kreatif adalah fondasi utama yang tidak bisa digantikan teknologi. Di era serba digital ini, justru dua kemampuan itulah yang makin dibutuhkan.
Ia memberi contoh tentang bagaimana AI dapat bekerja sebagai pendamping belajar. Misalnya, platform seperti Coursera, Ruangguru, atau Khan Academy mampu menyesuaikan materi sesuai kemampuan pengguna. Sementara itu, tools seperti ChatGPT, Midjourney, dan DALL-E memungkinkan siswa berlatih menulis, membuat ide kreatif, hingga menghasilkan karya visual tanpa batas. Namun, Prof. Stella juga mengingatkan bahwa kemudahan ini sering membuat generasi muda terlalu bergantung pada jawaban instan. Di sinilah peran pendidik termasuk kami sebagai calon pendidik untuk menuntun siswa agar tetap punya pola pikir mandiri.
Contoh lain yang cukup menarik adalah bagaimana AI membantu pembelajaran praktis. Simulasi virtual dapat digunakan untuk eksperimen yang sulit dilakukan di kelas nyata, misalnya pengamatan biologi mikroskopis atau eksperimen fisika yang membutuhkan alat mahal. AI juga membuka peluang bagi siswa untuk melakukan mini riset berbasis data, seperti menganalisis tren sosial menggunakan machine learning sederhana. Semua ini menunjukkan bahwa AI bukan sekadar alat bantu teknis, tetapi juga jembatan menuju pengalaman belajar yang lebih luas dan kolaboratif.
Meski begitu, Prof. Stella tidak menutup mata terhadap tantangan. Ia menyinggung isu penting seperti bias algoritma, keamanan data, kesenjangan akses, hingga risiko hilangnya empati dalam proses belajar jika teknologi dipakai tanpa batas. Karena itu, literasi digital menjadi keharusan, bukan pilihan. Siswa perlu diajari menggunakan AI secara bertanggung jawab bukan sebagai jalan pintas, tetapi sebagai pendamping refleksi dan eksplorasi.
Bagian yang paling membuka wawasan adalah ketika Prof. Stella menceritakan pengalamannya dalam dunia publikasi ilmiah. Ia bercerita dengan jujur bahwa publikasi bukan soal pintar saja, tetapi soal ketekunan. Mulai dari menentukan topik yang relevan (misalnya tentang AI dalam pendidikan), menyiapkan metodologi yang tepat, membuat abstrak yang kuat, hingga menghadapi proses peer review yang kadang melelahkan. Ia menyebutkan jurnal seperti IEEE dan ACM sebagai wadah yang menantang tapi sangat berharga. Bahkan, Prof. Stella menganjurkan peneliti muda untuk mulai dari konferensi lokal sebagai latihan sebelum naik ke panggung internasional.
Menurutnya, penelitian dan publikasi tidak hanya untuk menambah portofolio, tetapi juga untuk menyebarkan gagasan kepada masyarakat luas. Ia mendorong peserta untuk membagikan hasil penelitian di media sosial atau seminar kecil agar manfaatnya tidak berhenti di atas kertas.
Menutup kuliahnya, Prof. Stella memberikan pesan yang sangat mengena: “AI adalah katalis, bukan pengganti manusia.” Jika digunakan dengan bijak, AI dapat mempercepat proses belajar, mengasah cara berpikir, dan membuka ruang kreativitas yang lebih luas. Namun, semuanya kembali pada manusia apakah kita mau terus belajar, bereksperimen, dan mengembangkan inovasi?