Dari Aku Perempuan yang Dituntut Tangguh
Oleh: Wyne Dwi Cahyani
“Hidup harus tetap berjalan. Tak peduli seberapa berat rintangan. Tuhan memberikan cobaan pun memberikan jawaban atas doa yang dipanjatkan. Dan Tuhan menghadirkan dia di tengah kekecewaan. Kehadirannya menguatkan, seperti akar pada pepohonan.”
Embun pagi membasahi daun-daun hijau di depan rumah. Udara khas pegunungan menyapa hidung para penghuni desa. Harum bunga mawar yang terbawa angin begitu segar tercium. Kicau burung tak lupa juga menghiasi pagi di desa ini.
Aku seorang anak bungsu dari enam bersaudara. Ros, biasa orang-orang memanggilku. Tak mudah aku menjalani kehidupan ini. Banyak halangan dan rintangan yang harus aku lalui. Memang, Tuhan sudah mengatur semuanya. Tapi, bolehkah aku memesan takdir kepada Tuhan? Aku merasa Tuhan tak adil dalam segala hal di hidupku.
Apakah seorang gadis desa tidak boleh bermimpi? Bercita-cita? Atau menentukan perihal laki-laki yang pantas untuk dijadikan imam dalam hidupnya? Padahal, semua orang berhak, bukan, untuk menentukan pilihan hidupnya masing-masing? Kenapa aku tidak? Apakah dengan tidak menuruti keinginan orang tua, aku termasuk pada anak yang durhaka? Ketika baik di mata orang tua apakah harus baik juga di mata kita? Sementara jawaban kita sebenarnya tidak. Namun, karena perihal kita ingin berbakti kepada orang tua, jawaban “tidak” tersebut harus kita pendam dan kita ubah menjadi “iya”.
Beberapa hal memang perlu kita utarakan, termasuk keinginan hati kita. Tapi, ada beberapa hal juga yang terpaksa harus kita pendam. Sesakit apa pun itu. Terkadang kita harus mengikuti arus terlebih dahulu, meskipun kita tidak tahu bagaimana keadaan dermaga yang akan kita temui di depan sana.
“Ibu sudah menemukan laki-laki yang pas untuk menjadi pendampingmu,” ucap ibu yang menyadarkan lamunanku.
“Tapi ... aku sudah punya pilihan, Bu,” jawabku seraya memalingkan wajah.
“Ini adalah laki-laki pilihan Ibu. Karena Ibu tau pilihan yang terbaik untukmu!” ibu sedikit meninggikan suaranya.
Hening, tak ada jawaban.
Buliran air mata yang sejak tadi ditahan, akhirnya pecah tak tertahankan. Perlahan membasahi pipi. Menyeruak hingga terisak meninggalkan sesak. Rasa sakit akan terus ada. Sampai kapan pun itu. Memori kecil tanpa sadar akan merekamnya. Keadaan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan terjadi. Sehingga, apa yang harus aku sesali? Menyesal karena aku tak mampu melawan dan memilihi pilihan? Atau aku menyesal karena hanya diam memikirkan pertimbangan atas pilihan ibu yang disiapkan? Aku tidak tahu. Hanya ada tangisan yang mampu aku utarakan.
***
Mimpi hanya sekadar mimpi. Cita-cita harus aku kubur dalam-dalam bahkan perlahan harus dilupakan. Akhirnya, pilihan ibu yang harus aku jalani. Menikah dengan laki-laki yang bukan dambaan hati.
Perlahan-lahan aku harus tumbuhkan rasa cinta padanya. Sulit, teramat sulit. Pikiranku terkadang hanya disesaki pertanyaan yang mungkin, aku sendiri tak ada satu pun jawaban. Hari demi hari aku harus lewati dengan laki-laki yang bahkan aku saja tak pernah bertemu dengannya. Tapi, keadaan menuntutku. Menjalani kehidupan dengan laki-laki pilihan.
Tiga tahun berlalu. Aku sudah melewati fase-fase sulit yang terasa sakit. Kebutuhan dapur yang kadang tak terpenuhi atau bahkan harus bekerja dari pagi hanya untuk sesuap nasi. Selepas ijab kabul hari itu, tanggung jawab bapak dan ibu beralih pada laki-laki yang telah sah menjadi suamiku. Ibu dan bapak mungkin menyimpan harapan besar pada laki-laki itu. Tapi kenyataanya, hari-hariku terasa sakit ketika laki-laki itu membawaku pergi jauh dari kampung halaman.
Selama tiga tahun hidup bersamanya, aku bahkan pernah menjadi asisten rumah tangga hingga menjadi penjual bakso. Demi bertahan hidup di kota orang. Sampai hati ibu menitipkan aku pada laki-laki pilihannya. Aku kira akan bahagia, ternyata menderita.
Tiga tahun pernikahan, barulah Tuhan menitipkan momongan. Haru dan bahagia berpadu jadi satu. Bayi berjenis kelamin laki-laki Tuhan percayakan dalam rahimku.
“Alhamdulillah, terima kasih, Tuhan,” lirihku dalam sujud.
Sembilan bulan dalam kandungan. Aku rawat dan jaga baik-baik titipan-Nya. Namun, Tuhan mempunyai rencana lain dalam hidupku. Tepat bulan di bulan suci Ramadhan aku melahirkan. Engkau hadirkan satu anak laki-laki yang cacat. 10 hari kemudian juga, Engkau cabut lagi kebahagiaan yang sempat Engkau titipkan. Anak pertamaku lahir dalam keadaan tanpa anus atau lebih dikenal atresia ani.
Atresia ani adalah cacat lahir yang ditandai dengan kondisi bayi lahir tanpa anus.
Seharusnya aku mendengarkan nasehat dokter ketika cek kandungan. Tapi sayangnya, ibu mertua memilih dukun beranak ketimbang pergi ke rumah sakit. Duniaku runtuh kembali. Penyesalan terkadang terus menghantui pikiran. Tangisan juga tak terhentikan. Tak jarang hari-hariku di penuhi dengan lamunan.
“Tuhan, mengapa aku harus merasakan rasa sakit dan kebahagiaan secara bersamaan dalam kehidupan ini?” rintihku dalam sepi.
***
Betahun-tahun semenjak kejadian hari itu, duniaku terasa sepi. Namun, Tuhan menghadirkan orang-orang baik dalam hidupku.
“Jangan terlalu larut dalam kekecewaan. Tuhan pasti akan membalas semua rasa sakit kamu dengan beribu-ribu kebaikan yang tidak akan pernah kamu kira. Doakan, semoga anakmu kelak diakhirat dapat menolongmu,” ucap seorang bapak paruh baya.
Aku tersadar. Memang terlalu banyak nikmat yang aku lupakan. Barangkali Tuhan sedang menegurku.
Beberapa tahun kemudian, Tuhan memberiku kepercayaan lagi. Satu jenis kelamin bayi perempuan mengisi rahimku.Ini kebahagiaan yang Tuhan berikan kembali kepadaku. Satu anak perempuan yang dinantikan oleh seluruh anggota keluarga. Terkhusus keluarga suami. Yang selalu menantikan kehadiran cucu perempuan dalam keluarganya.
“Alhamdulillah, kehadiranmu sangatlah dinanti, Nak,” ucap suami sembari mengelus-elus perut.
“Tuhan, ini kebaikanmu. Engkau hidupkan kembali semangatku yang sempat hilang. Aku yakin ini titipan-Mu yang teramat berharga dalam hidupku. Kelak jika malaikat kecil ini terlahir dan tumbuh besar, semoga menjadi penerang. Tidak hanya menerangi hidupku tapi untuk orang-orang di sekitarnya, Aamiin ...,” rintihku dalam hati.
***
Sembilan bulan berlalu, bayi perempuanku telah hadir. Mempunyai ciri khas pada pipinya—lesung pipi. Ibu dan bapak mertua sangat menyanginya, karena keinginan beliau akan kehadiran anak atau cucu perempuan sangat dinantikan. Ini adalah cucu perempuan satu-satunya dalam hidup ibu dan bapak mertua.
“Banyak harapan yang akan dititipkan pada anak perempuan ini, semoga kelak ketika dia tumbuh menjadi seorang gadis dia mampu melanjutkan perjuangan Bapak menjadi seorang guru, ya,” ucap bapak mertua.
Ya, bapak mertua adalah seorang guru di salah satu sekolah negeri di kota ini. Tak heran jika beliau berbicara seperti itu. Karena ke dua anaknya tak ada satu pun yang bisa melanjutkan perjuangan beliau di bidang pendidikan. Mereka mempunyai jalan hidup masing-masing.
Alhamdulillah berkat kehadiran anak perempuan dalam hidupku aku mampu melewati masa tersulit dalam hidupku. Aku mampu berdamai dengan keadaan. Ya, meskipun tak sepenuhnya aku berdamai. Tapi, setidaknya aku tak terus-terusan berlarut-larut dalam kesedihan yang mendalam.
Ternyata tak mudah menjalani setiap peran menjadi seorang wanita. Dibutuhkan persiapan dalam setiap peran. Apakah kamu akan mampu melewati semuanya? Itu tergantung bagaimana kamu menyikapi setiap peran yang akan kamu lalui. Sejauh ini, peranku sudah sampai pada titik menjadi seorang ibu. Itu artinya aku harus siap mencetak generasi yang lebih baik dari kehidupanku yang sebelumnya.
Wyne dan Tumpukkan Kata
Copyright 2023