Cerita
Satu Sayap yang Tersisa
Satu Sayap yang Tersisa

Seandainya aku tahu itu adalah kabar terakhir dari bapak. Aku ingin bercerita. Tapi, satu penyesalan sampai hari ini. Aku tidak pernah membalas pesan-pesan singkat setelah mengetahui bahwa laki-laki itu adalah bapak.

Satu Sayap yang Tersisa

Oleh: Wyne Dwi Cahyani

Satu tahun sudah terlalui tanpa harapan yang selama belasan tahun aku pertahankan. Hampa rasanya. Aku ingin kembali pada tahun di mana semua rasa cemas itu memenuhi pikiran. Aku takut, tapi aku rindu.

Neng enggak kangen sama bapak?”  satu pesan masuk dari nomor tanpa nama pada aplikasi whatsapp.

Satu hari sebelumnya, ada panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Aku mengangkatnya. “Barangkali ada hal penting yang ingin disampaikan.”Ucapku dalam hati.

“Hallo, assalamualaikum,” terdengar suara laki-laki mengucap salam di balik layar hp.

Aku tak langsung menjawab salam tersebut. Berulang kali laki-laki itu mengucapkan salam, tapi aku hanya diam. Menerka-nerka suara di balik telepon genggam yang sedari tadi aku tempelkan di telinga.

Aku ingat suara itu, tapi aku lupa siapa orang dengan nada suara seperti itu. Beberapa menit aku diamkan. Mengingat-ngingat suara yang dari tadi mengucapkan salam. Tak lama aku pun menjawab dengan lirih, “Waalaikumsalam, dengan siapa?”

Di balik layar handphone laki-laki itu mengucap syukur. Aku tak tahu kenapa. Kemudian dia menanyakan kabar, dia mengaku sebagai penikmat karya-karyaku yang selalu aku unggah di sosial media.

Tapi, ada satu hal yang membuatku merasa aneh dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan. Beberapa kali dia menanyakan nama orang-orang terdekatku. Salah satunya—Aba. Aba Adalah panggilan untuk Kakek dariku. Padahal  Aba sudah  meninggalkanku satu tahun yang lalu.

Satu pertanyaan muncul di benakku, “Dari mana dia mengetahui tentang Aba? Apakah dia teman Aba?”

 

Lalu, tak lama dari beberapa pertanyaan yang sempat ia tanyakan. Ia mengajakku bertemu dengan dalih, “Saya ingin melihat karya kamu lebih banyak. Saya ingin mendengarkanmu membaca puisi. Saya ingin melihatmu secara langsung. Bagaimana rupamu, bagaimana kamu tumbuh dewasa di balik aksara-aksaramu. Aku ingin mendengarkan ceritamu, bagaimana kamu tumbuh dengan satu sayapmu.”

Tak sempat kujawab, hanya ada kalimat klise yang tersampaikan. Alasan-alasan tak masuk akal, karena aku tidak tahu siapa laki-laki di balik layar handphone itu.

Namun, kalimat-kalimat itu terus menghantui pikiranku. “Apa mungkin di luar sana ada orang yang diam-diam  menikmati aksara-aksaraku? Padahal tak begitu penting aksara yang ku tulis. Hanya aksara tak berpuan. Aksara gadis dan kerinduannya. Ah, aku tak tahu.” Lirihku dalam hati.

Keesokan harinya, laki-laki itu tidak menelponku lagi. Beralih pada aplikasi whatsapp, mengirimkan pesan-pesan singkat. Memberitahuku, bahwa ada orang yang sedang menunggu aksara-aksaraku terkirim di sosial media.

Rasa penasaranku terhadap laki-laki itu semakin tinggi. Beberapa hari kemudian aku memberanikan diri mempertanyakan  tentang laki-laki tersebut. Sebelum laki-laki itu menjawab pertanyaan. Satu pesan foto masuk disertai dengan kalimat, “Coba tanyakan pada Ibu, siapa yang beberapa hari ini mengganggumu lewat pesan-pesan singkat ini.”

“Bapak …,” satu balasan yang kukirimkan. Tak sempat aku mengadu dan memperlihatkan foto ke ibu. Buliran air mata tak terasa menetes.

“Apa kabar Neng Cantik? Neng enggak kangen sama Bapak?”Balas pesan laki-laki itu. Beberapa menit aku diamkan layar hp itu menyala. Aku belum berani membalas pesan itu.

Neng lagi sibuk apa? Bapak suka karangan-karangan yang Neng buat. Bapak tunggu karya-karya selanjutnya, ya. Semoga nanti bisa ketemu bawa buku karya hasil Neng sendiri.”

Seandainya aku tahu itu adalah kabar terakhir dari bapak. Aku ingin bercerita. Tapi, satu penyesalan sampai hari ini. Aku tidak pernah membalas pesan-pesan singkat setelah mengetahui bahwa laki-laki itu adalah bapak.

Satu tahun kemudian, di bulan yang sama ketika bapak menjelma laki-laki misterius. Laki-laki yang diam-diam menikmati aksaraku. Bapak pergi tanpa harapan yang dititipkannya terwujud.

Duniaku runtuh kembali. Harapan itu hancur semuanya. Padahal aku berjanji pada diriku sendiri. Ketika hari kelulusan tiba, aku akan menghadiahi buku pertamaku untuk bapak.

Tuhan berkehendak lain.  Bapak  pergi di tengah perjuanganku menempuh gerbang kelulusan.  Aku tak tahu harus bagaimana. Harapan itu perlahan sirna. Cahaya itu perlahan redup. Dan semangat itu mulai terenggut. Maaf, tak sempat kutemui  di sisa-sisa usiamu.

 

Wyne dan Tumpukkan Kata

Copyright 2022





Wyne Dwi Cahyani

Wyne Dwi Cahyani adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2024



0 Komentar





Cerita Lainnya