Cerita
Wafello
Wafello

Sesekali kita harus melihat ke bawah bukan untuk merendahkan. Tapi, melihat bagaimana keadaan seseorang yang kurang mampu berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang bagi kita itu hal biasa. Namun, bagi mereka itu sangat luar biasa. Terkadang manusia kerap kali meremehkan hal sederhana dalam hidup. Diberikan kemampuan untuk mendapatkan apa yang diinginkan dengan mudah. Tapi, nyatanya kadang manusia juga lupa bersyukur dengan adanya kenikmatan itu. Sudahkah bersyukur hari ini?

Wafello

Oleh: Wyne Dwi Cahyani

Aku menuju casir dengan keranjang belanjaan yang berisi barang-barang yang sudah di list sebelumnya.

“Oh, maaf Teh saya sampai enggak sadar ada Teteh,” ucap kasir perempuan di hadapanku dengan gelak tawa yang manis. Terlihat terkejut, sepertinya sedang melamun. Pakaian hitam putih rapih dan rambut yang diikat.

“Gapapa, Mbak. Lagian baru sampai, kok,” jawabku yang sama-sama ketawa dengan kejadian tersebut.

“Ada membernya, Teh?” tanya kasir disela-sela gelak tawa yang sejak tadi terdengar di antara kebisingan pusat perbelanjaan.

“Ada Mbak, sebentar saya ambil dulu,” cetusku.

“Totalnya 145.000, ada poin member yang bisa ditukar jika pembelian genap di angka 50.000, Teh. Ada lima ribu lagi untuk genap menjadi 150. 000. Barangkali mau ditambah apa?” tutur kasir tersebut.

“Ada apa aja, ya, Mbak?”

“Oke, wait, saya ambilkan dulu barangnya,” tampak kasir tersebut lari beberapa meter dari hadapan kasir.

Kurang dari lima menit, kasir tersebut sudah kembali. Membawa satu minuman iso tonik dan satu makanan dengan dua parian rasa; rasa coklat dan rasa pandan.

“Ada minuman ini, Teh. Sama padimas mooncake,” ucap kasir tersebut.

“Saya mau padimasnya aja, Mbak,”

“Mau yang rasa apa?  Ini cake rasanya enak loh, Teh. Di dalamnya ada isi yang lumer dimulut,” jelasnya.

“Mau yang rasa coklatnya,”

Teteh masih kurang dari 150.000, ada 1.500 lagi. Mau di tambah apa?”

“Makanan apa yang harganya segitu?”

“Emmm ... apa, ya? Sebentar, Teh,” sambil melihat beberapa makanan di samping kasir yang sudah tersedia.

“Oh, ya, ini Teh, ada roti padimas rasa coklat. Mau yang ini?”

“Boleh, Mbak,”

“Bismillah ya, Teh. Semoga angka pembayarannya genap,” ucap kasir seraya mengarahkan roti tersebut ke depan layar.

Dengan ragu-ragu mengarahkan roti itu ke hadapan layar. Dan tara, angka genap di 150.000 pas. Kami melirik dan saling berhadapan. Kemudian, gelak tawa terdengar dari kami berdua. Terlihat akrab, padahal baru saja beberapa menit yang lalu kami bertemu. Kasir yang paling aku suka sejauh ini. Selain ramah mudah akrab pula.

Aku memberikan uang cash sebesar 200.000.

“Uangnya 200 ya, Teh. Total belanjaannya 150.000. Kembali 50.000, ini struk dan kembaliannya. Terima kasih, Teh,” ucap lembut dibarengi senyuman manis.

Sekarang aku membawa satu kantong plastik yang berisi belanjaan tadi. Niat hati sebelum pulang, tadinya mau bersantai terlebih dahulu di kursi panjang yang disediakan oleh pusat perbelanjaan tersebut. Belum sampai lima menit duduk, ada seorang anak kecil. Memakai hijab berwarna putih yang sudah kumuh. Rambut berantakan yang keluar dari kerudung dan baju yang pendek serta kotor juga celana panjang yang sudah terlihat pendek di atas mata kaki. Memang, pakaian  yang tidak seharusnya dipakai ketika memakai hijab.

Dia mendekatiku. Seorang anak pengemis yang lalu lalang mendekati setiap orang yang keluar dari kasir setelah pembayaran belanjaan.  Membawa satu gelas plastik bekas aqua.

Aku menyodorkan satu lembar uang kertas. Kemudian, ia berbicara sangat pelan.  “Teteh, saya mau kuenya,” bisik dia.

“Oh boleh, kue yang ini?” tunjukku mengeluarkan kue dari belanjaan. Barangkali dia melihat kasir tadi memasukkan kue ke dalam belanjaanku.

“Bukan yang itu, Teh. Aku mau kue yang itu,” kembali dia berbicara sambil menunjuk pada tumpukkan wafello di sebelah stand dekat kursi yang ku dudukki.

“Oh ... wafer wafello itu?”

“Iya, Teh. Aku mau kue itu, buat buka puasa nanti,” jelas dia sambil menunduk.

“Boleh, boleh. Ambil, mau yang mana?”  tanyaku.

“Yang ini aja, Teh, satu. Makasih, yaaa ...,” seraya mengambil wafer wafello rasa krim cokelat.

Dia berlalu, berjalan mendekati seorang ibu-ibu yang tengah menuntun anak laki-lakinya. Kemudian, si ibu tersebut mengeluarkan dua uang koin dari tasnya. Aku tidak melihat ia pergi ke mana lagi, karena tatapan yang aku tuju pada anak tersebut teralihkan oleh kasir penjual wafello.

Teteh? Satu aja?” tanya penjual wafello.

“Oh, iya, Mbak maaf, satu saja. Berapa mba?”

“Tiga ribu, Teh,”

Aku lekas megeluarkan dua lembar uang kertas dua ribuan. Lalu mengambil uang kembalian dan meninggalkan stand tersebut.

Pandanganku tertuju pada posisi terakhir anak tadi yang tengah mendekati ibu-ibu. Ternyata anak tersebut sudah tidak ada. Aku berjalan menuju arah pulang.

Hari ini mendapatkan pelajaran yang tak seberapa namun sangat berharga. Untukku uang tiga ribu dan wafer wafello sudah biasa ditemukan sehari-hari, bahkan merasa bosan dengan wafer tersebut. Namun, ternyata bagi sebagian orang di luar sana sangat diinginkan bahkan menjadi incaran atau menjadi bahan yang mungkin didambakan.

Sesekali kita harus melihat ke bawah bukan untuk merendahkan. Tapi, melihat bagaimana keadaan seseorang yang kurang mampu berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang bagi kita itu hal biasa. Namun, bagi mereka itu sangat luar biasa. Terkadang manusia kerap kali meremehkan hal sederhana dalam hidup. Diberikan kemampuan untuk mendapatkan apa yang diinginkan dengan mudah. Tapi, nyatanya kadang manusia juga lupa bersyukur dengan adanya kenikmatan itu.Sudahkah bersyukur hari ini?

 

Wyne dan Tumpukkan Kata

Copyright 2023

 

 





Wyne Dwi Cahyani

Wyne Dwi Cahyani adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2024



0 Komentar





Cerita Lainnya