Aku pernah mencintai seseorang sampai lupa bagaimana caranya mencintai diri sendiri. Aku pernah bertahan di tempat yang menyakitkan hanya karena takut kembali sendirian. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan lagi menaruh harapan terlalu tinggi kepada siapa pun.
Namun, janji itu perlahan runtuh ketika Mahendra datang.
Ia tidak datang dengan janji-janji besar. Ia hanya hadir, mendengarkan cerita-ceritaku, dan menggenggam tanganku ketika aku merasa tidak sanggup menghadapi dunia. Di dekatnya, aku merasa tidak perlu berpura-pura kuat.
"Kenapa kamu selalu merasa harus menghadapi semuanya sendirian, Lin?" tanyanya suatu malam.
Aku tersenyum hambar. "Karena pada akhirnya, semua orang juga akan pergi."
Mahendra menggeleng. "Enggak semua orang, Lalin."
Aku menatapnya. Ada sesuatu dalam caranya mengucapkan kalimat itu yang membuatku ingin mempercayai seseorang sekali lagi.
"Kalau nanti kamu pergi juga bagaimana?"
Ia tertawa kecil, kemudian menggenggam tanganku.
"Jangan pikirkan sesuatu yang belum terjadi."
Bodohnya, aku menganggap genggaman itu sebagai jawaban. Aku mengira, setelah sekian lama hidup mengajariku tentang kehilangan, setelah sekian lama diriku tinggal dalam kesepian, akhirnya ada seseorang yang bersedia tinggal, dengan cinta yang dia miliki.
Aku tidak tahu bahwa di hari esok, tangan yang kugenggam dengan penuh harapan itu justru akan menjadi tangan yang paling menyakitkan untuk kulepaskan.
Pagi itu, lorong rumah sakit terasa begitu panjang.
Aku berjalan dengan langkah gontai, menatap lantai putih yang tampak buram oleh air mata. Dua jam yang lalu, dokter menyatakan nenekku meninggal dunia. Perempuan yang selama ini menjadi tempatku pulang, perempuan yang selalu kujadikan alasan untuk bertahan, kini telah pergi, meninggalkan rumah yang tak lagi terasa seperti rumah.
Aku duduk di bangku dekat jendela. Tanganku gemetar, sementara dadaku terasa sesak.
"Nek, aku harus bagaimana sekarang?" ucapku penuh keputusasaan sambil mendekap kedua lututku.
Tidak ada jawaban. Hanya suara langkah perawat dan percakapan orang-orang yang berlalu-lalang.
Aku menangis tanpa suara. Aku ingin marah, ingin bertanya kepada Tuhan mengapa orang yang paling kusayangi harus pergi ketika aku belum siap. Namun, tidak ada satu pun pertanyaan yang menemukan jawaban. Tidak ada satu pun pertanyaan yang mampu mengubah kenyataan.
"Lalin?"
Aku mengangkat kepala. Mahendra berdiri di hadapanku.
Begitu melihatnya, pertahananku runtuh. Aku bangkit dan memeluknya erat-erat, menangis di dadanya seperti anak kecil yang kehilangan arah.
"Nenekku sudah enggak ada, Hen."
"Aku tahu." Ia mengusap kepalaku. "Aku di sini, Lin."
"Aku capek. Aku benar-benar capek."
"Enggak apa-apa. Kamu enggak harus kuat sekarang."
Aku memejamkan mata. Untuk beberapa saat, aku merasa masih memiliki seseorang. Seseorang yang bisa kugenggam ketika dunia mengambil hampir seluruh hal yang kusayangi. Ketika dunia tidak pernah berpihak kepadaku, barang sehari saja.
"Jangan pergi, ya, Hen," bisikku.
Mahendra mengeratkan pelukannya.
"Aku di sini."
Dan sekali lagi, aku percaya.
Sejak kepergian nenek, Mahendra menjadi bagian penting dalam hari-hariku. Ia menanyakan apakah aku sudah makan, menemaniku ketika kesepian, dan mendengarkan ceritaku tentang nenek yang selalu kuulang.
Perlahan, aku kembali tersenyum.
Aku mulai menantikan pesannya setiap pagi. Aku mulai merasa kehilangan ketika sehari saja tidak mendengar suaranya. Tanpa kusadari, aku jatuh cinta kepada laki-laki yang pernah membantuku melewati hari-hari terburuk dalam hidupku.
Suatu sore, kami duduk di sebuah kedai kecil. Mahendra bercerita tentang pekerjaannya, sementara aku sesekali menatap wajahnya.
"Kenapa lihat-lihat?" tanyanya.
Aku terkekeh. "Enggak apa-apa."
"Pasti ada sesuatu."
Aku menggeleng, lalu memberanikan diri bertanya, "Hen, kamu pernah enggak merasa takut kehilangan seseorang?"
Ia berpikir sejenak. "Pernah."
"Terus, kamu bagaimana?"
"Ya, dijaga."
Aku terdiam. Kalimat sederhana itu membuatku semakin yakin bahwa perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.
Malam itu, sepulang dari kedai, aku menulis namanya di halaman terakhir buku catatanku. Di bawahnya, kutulis sebuah kalimat pendek: Semoga kali ini aku tidak salah memilih tempat pulang.
Aku tidak tahu bahwa harapan paling sederhana itu kelak menjadi sesuatu yang paling ingin kulupakan.
Perubahan Mahendra datang perlahan.
Pesan-pesanku mulai jarang dibalas. Panggilanku tidak lagi diangkat. Pertemuan yang kami rencanakan berkali-kali dibatalkan dengan alasan kesibukan.
Awalnya, aku mencoba memahami.
Mungkin ia lelah. Mungkin pekerjaannya sedang menumpuk. Mungkin aku hanya terlalu sensitif karena pengalaman masa lalu.
Namun, semakin hari, jarak di antara kami semakin terasa.
Suatu malam, aku memberanikan diri meneleponnya.
"Hen, kamu lagi sibuk?"
"Kenapa, Lin?"
"Aku cuma mau ngobrol."
"Aku capek. Besok saja, ya."
Sambungan terputus sebelum aku sempat menjawab.
Aku menatap layar ponsel cukup lama. Ada sesuatu yang terasa ganjil, tetapi aku berusaha mengabaikannya. Aku takut jika terlalu banyak bertanya, ia akan menganggapku merepotkan.
Sampai suatu sore, aku melihatnya tertawa bersama teman-temannya. Ia tampak baik-baik saja, seolah tidak ada sesuatu pun yang sedang mengganggunya.
Aku menghampirinya.
"Hen, kita bisa bicara sebentar?"
Ia mengangguk malas.
"Aku salah apa?" tanyaku setelah kami duduk berhadapan.
Mahendra mengerutkan kening. "Maksud kamu?"
"Kamu berubah. Kamu jarang menghubungiku, selalu menghindar ketika aku mengajak bertemu. Kalau memang ada masalah, bilang saja."
Ia menghela napas panjang.
"Lalin, kamu terlalu banyak berpikir."
Aku terdiam.
"Aku cuma ingin tahu kenapa kamu menjauh," jawabku lirih.
"Enggak ada apa-apa. Aku memang lagi ingin sendiri."
"Kalau begitu, kenapa kamu enggak bilang dari awal?"
"Lalu aku harus menjelaskan semuanya setiap kali kamu merasa takut?"
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku enggak pernah meminta kamu untuk selalu ada setiap waktu, Hen. Aku cuma ingin tahu apakah aku masih berarti buat kamu."
Mahendra mengalihkan pandangan.
"Aku enggak pernah menyuruh kamu berharap sejauh itu, Lalin."
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada yang bisa kujelaskan.
Aku terdiam lama, mencoba memahami laki-laki yang berdiri di hadapanku. Laki-laki yang pernah memelukku ketika aku kehilangan nenek. Laki-laki yang mengatakan bahwa aku tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Laki-laki yang membuatku percaya bahwa tidak semua orang akan pergi.
"Jadi, selama ini aku saja yang menganggap semuanya berarti?" tanyaku.
Mahendra tidak menjawab.
Aku tertawa kecil, meskipun air mataku mulai jatuh.
"Lucu, ya. Waktu aku kehilangan nenek, kamu bilang kamu ada buat aku. Waktu aku takut ditinggalkan, kamu bilang enggak semua orang akan pergi. Sekarang, ketika aku mulai percaya sama kamu, kamu malah membuatku merasa seperti orang asing."
"Lalin, jangan membuat semuanya seolah-olah aku yang salah. Aku enggak pernah berjanji mencintai kamu."
Aku menunduk.
Benar. Ia tidak pernah mengucapkan janji itu. Akulah yang menerjemahkan perhatiannya menjadi cinta, kehadirannya menjadi kesetiaan, dan genggaman tangannya menjadi harapan.
Namun, tetap saja, aku terluka.
"Aku tahu," jawabku akhirnya. "Kamu memang enggak pernah berjanji. Aku saja yang terlalu percaya."
Aku berdiri, menghapus air mata, lalu menatapnya untuk terakhir kali.
"Terima kasih karena pernah membuatku merasa enggak sendirian, Hen. Sayang sekali, ternyata aku salah mengartikan semuanya."
Aku pergi sebelum ia sempat menjawab.
Kali ini, tidak ada tangan yang menahanku.
Malam itu, aku menangis di kamar hingga dadaku terasa sakit. Aku menangisi Mahendra, tetapi lebih dari itu, aku menangisi diriku sendiri. Perempuan yang sudah berusaha keras untuk kembali percaya, tetapi harus menerima luka yang hampir sama.
Aku teringat nenek. Aku teringat bagaimana ia selalu mengatakan bahwa aku tidak perlu menjadi sempurna untuk pantas dicintai.
Lalu, mengapa aku terus merasa tidak cukup setiap kali seseorang pergi?
Beberapa hari kemudian, aku mengunjungi makam nenek. Aku duduk di samping pusaranya, membawa bunga yang kubeli di perjalanan.
"Nek, aku gagal lagi," bisikku.
Angin berembus pelan.
"Aku kira Mahendra akan tinggal. Aku kira, setelah Nenek pergi, setidaknya masih ada seseorang yang bisa kugenggam."
Air mataku jatuh.
"Ternyata aku salah."
Aku menunduk lama sebelum akhirnya mengusap wajah.
Dahulu, aku selalu mengira bahwa keselamatan berarti menemukan seseorang yang bersedia tinggal. Aku berpikir, selama ada yang menggenggam tanganku, aku akan baik-baik saja.
Namun, kini aku mulai memahami bahwa tidak semua tangan yang terulur bermaksud menetap. Ada orang yang datang hanya untuk menemani sebentar, ada yang tanpa sadar meninggalkan luka, dan ada pula yang harus kita lepaskan meskipun kita masih menyayanginya.
Aku tidak bisa memaksa Mahendra mencintaiku. Aku juga tidak bisa terus menyalahkan diriku karena pernah berharap.
Untuk pertama kalinya, aku ingin berhenti berlari mengejar seseorang hanya agar tidak merasa sendirian.
"Aku akan belajar, Nek," bisikku. "Aku akan belajar pulang kepada diriku sendiri."
Aku bangkit dan meninggalkan makam ketika matahari mulai tenggelam.
Kesedihan itu belum hilang. Aku masih merindukan nenek. Aku masih terluka karena Mahendra. Aku belum tahu kapan semuanya akan terasa lebih ringan.
Namun, kali ini, aku tidak ingin lagi menjadikan kepergian seseorang sebagai bukti bahwa aku tidak layak dicintai.
Sebab, mungkin, aku memang tidak bisa memilih siapa yang akan tinggal. Aku tidak bisa memastikan siapa yang akan mencintaiku dengan tulus, siapa yang akan berubah, dan siapa yang pada akhirnya memilih pergi.
Tetapi aku masih bisa memilih untuk tidak meninggalkan diriku sendiri.
Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
Sebab, tangan yang selama ini kucari untuk menyelamatkanku ternyata bukanlah satu-satunya tangan yang bisa kugenggam.
Ada tanganku sendiri, yang selama ini selalu kulupakan.
Dan kali ini, aku ingin menggenggamnya erat-erat.