Berita Terkini
Revitalisasi Sastra dan Pembelajaran Digital Jadi Sorotan dalam Kuliah Umum Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia.
Revitalisasi Sastra dan Pembelajaran Digital Jadi Sorotan dalam Kuliah Umum Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia.

**Tulisan Ringkas** Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, termasuk Emi Jamilah, mengikuti kuliah umum yang membahas pembelajaran bahasa dan sastra di era digital. Dr. Adita membahas revitalisasi cerita rakyat melalui ABER, Dr. Tato menekankan pentingnya *deep learning* dan literasi digital, sementara Dr. Enung menjelaskan perkembangan sastra siber serta perlunya pedagogi yang humanistik di Society 5.0. Acara ini memberi wawasan baru bagi mahasiswa untuk beradaptasi dengan perubahan pembelajaran modern.

Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, termasuk Emi Jamilah, mengikuti kuliah umum yang menghadirkan tiga pemateri dengan fokus pada transformasi pembelajaran bahasa dan sastra di era digital. Kegiatan ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana perkembangan teknologi, multiliterasi, dan kecerdasan buatan mengubah cara belajar, berkarya, dan membaca sastra di abad ke-21.

Pemateri pertama, Dr. Adita Widara Putra, M.Pd dari Pendidikan Bahasa Indonesia, menyampaikan materi tentang Arts-Based Educational Research (ABER) sebagai strategi revitalisasi cerita rakyat Galunggung. Ia menjelaskan bahwa generasi muda mulai menjauhi cerita rakyat karena dominasi budaya digital, padahal sastra lisan menyimpan nilai budaya dan kekuatan pedagogis. Melalui pendekatan ABER, cerita rakyat dapat dialihwahanakan menjadi seni pertunjukan multimedia yang lebih dekat dengan gaya belajar dan minat generasi digital. Dr. Adita juga memaparkan sejumlah penelitiannya mengenai videografi musikalisasi puisi dan pengembangan bahan ajar digital, yang menunjukkan bahwa karya seni dapat menjadi jembatan efektif antara tradisi budaya dan kebutuhan pembelajaran modern.

Materi kedua dibawakan Dr. Tato Nuryanto, M.Pd dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, yang membahas bagaimana pembelajaran bahasa dan sastra dapat diperkuat melalui integrasi deep learning. Ia menyoroti tantangan utama pembelajaran bahasa di era digital, mulai dari rendahnya keterlibatan siswa dalam metode tradisional hingga kebutuhan akan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital. Menurutnya, deep learning mampu meningkatkan motivasi, kemandirian belajar, dan kemampuan memahami konteks budaya dalam teks sastra. Ia juga mencontohkan keberhasilan model Deep Blended Learning di China yang dapat menjadi inspirasi untuk pembelajaran bahasa Indonesia.

Pemateri ketiga, Enung Nurhayati, M.A., Ph.D dari IKIP Siliwangi Cimahi, mengajak mahasiswa melihat perjalanan panjang sastra siber dari era blog hingga era kecerdasan buatan. Ia menjelaskan bahwa estetika sastra digital kini ditentukan oleh interaktivitas, multimodalitas, dan algoritma platform. Dalam konteks Society 5.0, ia menawarkan model pedagogi tiga pilar—deep reading, multimodal creation, dan ethical AI literacy untuk membantu peserta didik tidak hanya produktif mencipta karya, tetapi juga cakap menafsirkan teks dan bijak menggunakan teknologi.

Bagi Emi Jamilah dan mahasiswa lainnya dari Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, kuliah umum ini membuka perspektif baru mengenai peran pendidik dan pelajar bahasa di tengah arus digitalisasi. Mereka menyadari bahwa pembelajaran bahasa dan sastra kini menuntut kreativitas, kepekaan budaya, dan kemampuan memanfaatkan teknologi secara kritis. Dengan bekal wawasan ini, mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan pembelajaran yang lebih relevan, inovatif, dan humanistik di masa depan.





Emi Jamilah

Emi Jamilah adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2023



0 Komentar





Berita Terkini Lainnya