Bandung, Emi Jamilah, mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) IKIP Siliwangi, kelas A1 dengan NIM 22210078, menyusun laporan berita terkait kuliah umum yang disampaikan oleh Prof. Stella Christie, Ph.D. Kuliah umum ini menyoroti secara lugas bagaimana kecerdasan buatan (AI) mulai membentuk wajah baru pendidikan global.
Dalam pemaparannya, Prof. Stella mengawali dengan kisah personal mengenai anaknya yang tumbuh dalam lingkungan multibahasa—bersekolah dengan tuntutan berbahasa Mandarin, sementara di rumah menggunakan bahasa Indonesia dan Polandia. Pengalaman ini menjadi pijakan untuk menunjukkan bagaimana AI kini mampu memberikan umpan balik objektif dan cepat terhadap tulisan siswa, termasuk tulisan anaknya sendiri.
Prof. Stella menegaskan bahwa AI bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi sudah menjadi alat ukur penting dalam mengevaluasi capaian belajar. Dengan kemampuan memberikan penilaian kuantitatif secara akurat, AI membantu guru mengetahui apakah karangan atau tugas siswa telah memenuhi standar pembelajaran. Meski begitu, ia mengakui bahwa AI tidak sepenuhnya sempurna. Namun, fungsinya sebagai instrumen pengukuran tetap dianggap sangat kuat dan relevan dalam dunia pendidikan modern.
Dalam kuliah tersebut, Prof. Stella juga mengkritik metode mengajar konvensional yang terlalu berpusat pada guru dan tidak mempertimbangkan bagaimana siswa menerima materi. Ia menyebutkan bahwa pembelajaran yang hanya berbasis teks cenderung membuat siswa pasif, sementara media visual seperti film dinilai lebih efektif dalam membangkitkan minat dan rasa ingin tahu. Fenomena siswa kehilangan fokus hingga guru kehabisan cara mengajar dianggap sebagai tanda bahwa pendekatan pengajaran perlu dievaluasi ulang.
Sebagai penutup, Prof. Stella menekankan bahwa setiap keputusan dalam memilih metode ataupun materi pembelajaran harus berlandaskan bukti empiris. Keberhasilan pembelajaran, menurutnya, bukan diukur dari seberapa menariknya materi, tetapi dari seberapa jauh siswa benar-benar belajar. Seluruh argumen yang ia sampaikan diperkuat dengan data penelitian, menjadikan kuliah umum ini kaya wawasan dan relevan bagi para pendidik maupun mahasiswa, khususnya di lingkungan PBSI.
Dengan laporan ini, Emi Jamilah mencatat kembali esensi penting dari kuliah umum tersebut dalam perspektif keilmuan Bahasa dan Sastra Indonesia, sekaligus menunjukkan bagaimana kajian pendidikan dan teknologi kini berjalan seiring.