Bahasa dan Sastra
Dari Tungku Menjadi Sejarah: Kisah Kampung Lembur Lio
Dari Tungku Menjadi Sejarah: Kisah Kampung Lembur Lio

Dahulu kampung ini hidup dalam kebersamaan dan penuh semangat, ditandai asap dan api yang hangat. Seiring waktu, perubahan zaman mengubah tatanan hidup warga. Namun satu nama tetap bertahan hingga kini, menyimpan kisah perjuangan, gotong royong, dan jejak sejarah masyarakat.

Di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Kampung Lembur Lio, di Desa Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat ini dahulu suasana kampung selalu dipenuhi kepulan asap dari tungku pembakaran bata dan genteng. Sejak pagi hari, para warga sibuk mengolah tanah liat, mencetak bata, lalu menyusunnya rapi untuk dibakar di dalam tungku pembakaran tradisional. Pekerjaan itu dilakukan secara turun-temurun oleh para pemuda, pemudi, hingga orang tua. Suara canda para pekerja dan hangatnya api pembakaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat saat itu.
Nama “Lembur Lio” sendiri berasal dari kebiasaan masyarakat yang mengelola tempat pembakaran bata dan genteng. Kata “lembur” berarti kampung, sedangkan “lio” merujuk pada tungku pembakaran yang menjadi pusat aktivitas warga. Karena hampir setiap sudut kampung memiliki tempat pembakaran, masyarakat sekitarpun mulai menyebut wilayah
tersebut sebagai Kampung Lembur Lio. Nama itu akhirnya melekat hingga sekarang.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan zaman mulai mengubah kehidupan warga.
Banyak masyarakat yang dahulu bekerja sebagai pengrajin bata dan genteng perlahan beralih profesi ke dunia industri dan pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan.
Tungku-tungku pembakaran yang dulu selalu menyala kini mulai jarang digunakan.
Meski begitu, Kampung Lembur Lio tetap hidup di tengah masyarakat. Beberapa warga masih mempertahankan profesi tersebut. Nama Lembur Lio menjadi pengingat bahwa kampung itu pernah tumbuh dari kerja keras masyarakat pengrajin bata dan genteng yang penuh semangat, kebersamaan, dan gotong royong. Meski begitu nama tersebut terus diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari sejarah kampung yang masih dikenang hingga sekarang. Dan menjadi simbol perjuangan dan kerja keras masyarakat terdahulu yang pernah menjadikan kampung tersebut terkenal sebagai pusat pembuatan bata dan genteng tradisional.




Tintin Rohaeni

Tintin Rohaeni adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2025



0 Komentar





Bahasa dan Sastra Lainnya