Bahasa dan Sastra
Lalakon Batu Arca: Mitos atau Fakta?
Lalakon Batu Arca: Mitos atau Fakta?

Di Kampung Cikurutug, kesaksian tutur leluhur dirawat erat oleh Bapak Jajang Suprianto. Kisah turun-temurun ini berpusat pada Batu Arca yang diyakini masyarakat sebagai Benteng Kedaton pasak spiritual pembatas amarah alam. Konon, jika batu suci ini bergeser walau sejengkal, petaka banjir bandang akan menyapu wilayah Cidamar hingga pesisir Cidaun. Legitimasi batas kuno ini diperkuat fisik Batu Tulis beraksara Sanskerta yang berdiri di antara dua aliran sungai menuju pantai. Di balik mistisismenya, mitos ini memuat alarm ekologis yang logis. Batu Arca hanya akan bergeser saat manusia mulai merusak hutan dan menyimpang dari jalan kebenaran.

Di tanah selatan, di mana angin laut berpapasan langsung dengan rimbunnya hutan, masyarakat Cidamar dan Cidaun hidup di bawah bayang-bayang sebuah sumpah purba. Bagi sebagian besar manusia modern, kisah-kisah masa lalu mungkin hanya dianggap sebagai dongeng pengantar tidur. Namun tidak bagi Bapak Jajang Suprianto, seorang warga Kampung Cikurutug yang hingga hari ini tetap teguh merawat rasa hormatnya terhadap warisan leluhur.

 

Kisah tentang keselamatan wilayah ini bukanlah hasil rekaan baru, melainkan sebuah amanat lisan yang diterima Pak Jajang melalui cerita yang dituturkan turun-temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui rantai ingatan kuno itulah, sebuah keyakinan kokoh terjaga: bahwa nasib keselamatan tempat tinggal mereka tidak ditentukan oleh seberapa megah tanggul beton yang dibangun manusia, melainkan oleh keheningan sebongkah batu misterius yang dikenal sebagai “Batu Arca”.

 

Dalam ingatan kolektif yang diwariskan kepada Pak Jajang, Batu Arca bukanlah sekadar batuan purbakala yang membeku ditelan zaman. Orang-orang tua terdahulu menyebutnya sebagai “Benteng Kedaton “sebuah pasak spiritual dan batas suci yang menyegel amarah alam. Mitos turun-temurun yang rigid dan mengikat ini menyampaikan satu peringatan kerasbjika Batu Arca itu sampai bergeser dari tempat kedudukannya semula, walau hanya sejengkal, maka itu adalah proklamasi bagi datangnya petaka. Air bah akan turun, menelan wilayah Cidamar, menyapu Cidaun, dan membawa apa saja yang dilewatinya menuju kehancuran.

 

Peringatan lama ini bukan berdiri tanpa legitimasi sejarah. Sebagai bukti fisik yang memvalidasi kesucian wilayah tersebut, berdiri sebuah “Batu Tulis beraksara Sanskerta”. Letaknya berada tepat di antara dua aliran sungai kuno yang saling membelah daratan. Di titik itulah kedua sungai tersebut melebur menjadi satu aliran besar yang menderu, mengalir lurus menuju bibir Pantai Cidaun. Aksara-aksara kuno yang terpahat di sana seolah menjadi segel sejarah, mengamini apa yang selalu diceritakan para leluhur bahwa wilayah ini telah mengunci sebuah perjanjian besar antara manusia, sungai, dan laut.

 

Namun, lewat kacamata Pak Jajang Suprianto melalui kebijaksanaan cerita lama yang ia serap esensi terdalam dari mitos Kampung Cikurutug ini sejatinya memuat hukum sebab-akibat yang sangat logis dan sarat pesan moral. Batu Arca tidak memiliki kaki untuk berjalan. Jika batu itu sampai bergeser, para tetua terdahulu telah mewanti-wanti bahwa sumbu utamanya adalah runtuhnya pagar moral manusia di sekitarnya. Mitos ini memuat pesan ekologis yang sangat tajam: batu akan bergeser ketika masyarakat mulai kehilangan rasa hormat pada alam saat kapak dan gergaji mulai merobek jantung hutan, denyut-denyut pohon penyangga diruntuhkan, dan keserakahan membuat manusia menyimpang dari jalan yang benar. Ketika hutan digunduli dan jalan kebenaran ditinggalkan, tanah akan kehilangan pegangannya. Air hujan tidak lagi meresap, melainkan mengikis fondasi bumi, melongsorkan tanah, dan pada akhirnya secara harfiah maupun metaforis menggeser Batu Arca dari tempatnya.

 

Pada titik itulah, dua sungai yang tadinya mengalir tenang akan berubah menjadi banjir bandang yang murka. Mereka menyatu, menerjang pemukiman, dan membawa seluruh dosa keserakahan manusia menuju muara Pantai Cidaun. Melalui kisah turun-temurun yang kini diestafetkan oleh Bapak Jajang Suprianto, kita diingatkan kembali bahwa Batu Arca adalah sebuah alarm moral yang tak pernah usang: bencana ekologis selalu dimulai dari bergesernya hati manusia dari jalan yang lurus.



 





Raka Muhamad Arfan Maulana

Raka Muhamad Arfan Maulana adalah anggota komunitas Literasiliwangi yang bergabung sejak Dec 2025



0 Komentar





Bahasa dan Sastra Lainnya