Telah terlaksana webinar secara daring yaitu SAWALA TILU Dialog Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran Bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh ADOBSI JABAR (Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Wilayah Jawa Barat). Acara webinar ini di isi oleh para narasumber yang sangat luar biasa hebatnya diantaranya: Dr.Adita Widara Putra, M.Pd (spesialis kebahasaan dan pembelajaran), Dr.Tato Nuryanto, M.Pd (spesialis sastra digital), dan Enung Nurhayati, M.A, Ph.D (spesialis sastra).
Materi pertama disampaikan oleh Dr.Adita Widara putra, M.Pd yang membahas tentang ARTS-BASED EDUCATIONAL RESEARCH (ABER) sebagai Strategi Revitalisasi Cerita Rakyat Galunggung dalam Pembelajaran Bahasa Era Multiliterasi.
Materi ini membahas bagaimana cerita rakyat Galunggung yang mulai terlupakan dapat dihidupkan kembali dalam pembelajaran bahasa melalui pendekatan Arts-Based Educational Research (ABER). Di era multiliterasi, siswa tidak cukup hanya belajar bahasa dari teks; mereka perlu terhubung dengan berbagai bentuk media—visual, audio, hingga digital. Sayangnya, di tengah kuatnya budaya digital, cerita rakyat sering dianggap kuno. Padahal, cerita-cerita itu menyimpan nilai budaya, moral, dan estetika yang sangat kaya. Karena itu, ABER hadir sebagai jembatan kreatif untuk mengubah cerita rakyat menjadi bentuk seni yang lebih dekat dengan dunia anak muda, seperti video musikalisasi puisi dan pertunjukan multimedia.
Pendekatan berbasis seni ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih menarik, tetapi juga membantu siswa memahami budaya mereka sendiri dengan cara yang lebih menyentuh dan bermakna. Serangkaian penelitian dari 2020–2024 yang dilakukan oleh Dr.Adita menunjukkan bahwa metode ini efektif sebagai bahan ajar bahasa Indonesia yang relevan di abad ke-21. Pada akhirnya, ABER menjadi bukti bahwa seni, teknologi, dan pendidikan dapat berjalan bersama untuk menjaga warisan budaya tetap hidup sekaligus memenuhi kebutuhan pembelajaran generasi digital.
Pemateria kedua disampaikan oleh Dr. Tato Nuryanto, M.Pd yang membahas tentang Membangun Generasi Bahasa dan Sastra Digital Mengintegrasikan Deep Learning dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra untuk Meningkatkan Kompetensi Abad 21
Materi ini menjelaskan bagaimana pembelajaran bahasa dan sastra harus beradaptasi dengan dunia digital yang semakin cepat berubah. Sastra digital hadir sebagai wujud baru karya sastra yang tidak hanya dibaca, tetapi juga dialami melalui suara, visual, dan interaksi. Perkembangan ini membuka peluang besar bagi guru dan siswa untuk belajar dengan cara yang lebih kreatif dan dekat dengan keseharian mereka. Di sisi lain, pembelajaran tradisional sering tertinggal karena kurang mampu menjawab kebutuhan siswa zaman sekarang. Siswa membutuhkan lebih dari sekadar hafalan; mereka perlu kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan melek teknologi. Di sinilah pendekatan deep learning berperan dengan fokus pada pemahaman mendalam dan analisis, pendekatan ini mendorong siswa untuk benar-benar mengerti, bukan sekadar mengingat.
Integrasi AI dalam pembelajaran termasuk penggunaan alat seperti ChatGPT membantu pembelajaran menjadi lebih personal, interaktif, dan relevan. AI juga mempermudah siswa memahami teks sastra yang kompleks melalui penjelasan visual atau ringkasan yang lebih mudah dicerna. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dengan kombinasi deep learning dan teknologi digital, motivasi dan kemampuan analisis siswa meningkat signifikan. Meski demikian, tantangan tetap ada, seperti keterbatasan teknologi di beberapa daerah dan kesiapan guru untuk beradaptasi. Namun tantangan ini dapat diatasi melalui pelatihan guru, pengembangan kurikulum digital, dan kerja sama antar lembaga pendidikan.
Kesimpulannya, materi ini menekankan bahwa masa depan pembelajaran bahasa dan sastra ada pada kemampuan kita memadukan teknologi, kreativitas, dan pendekatan pembelajaran yang lebih mendalam. Tujuannya sederhana: membentuk generasi yang bukan hanya mahir berbahasa, tetapi juga mampu berpikir kritis, berkolaborasi, dan berkreasi di dunia digital.
Pematerian ketiga disampaikan oleh Enung Nurhayati, M.A, Ph.D yang mebahas tentang REKONSTRUKSI SASTRA SIBER DALAM EKOSISTEM PENDIDIKAN ERA SOCIETY 5.0:KERANGKA PEDAGOGIS BERBASIS TIGA PILAR
Materi ini menjelaskan bagaimana sastra mengalami perubahan besar ketika berpindah ke dunia digital. Di platform seperti Wattpad, Webtoon, hingga TikTok Literature, sastra tidak lagi hanya berupa teks, tetapi menjadi pengalaman yang multimodal—menggabungkan gambar, suara, interaksi, dan partisipasi pembaca. Namun perubahan cepat ini juga menciptakan kesenjangan: siswa sangat aktif di dunia digital, tetapi sekolah sering masih berpegang pada pendekatan lama. Rekonstruksi sastra siber menjadi penting karena pendidikan harus mampu mengikuti ritme digital tanpa kehilangan nilai-nilai manusiawi. Di era Society 5.0, teknologi seharusnya membantu manusia menjadi lebih kreatif, etis, dan reflektif. Sayangnya, minat membaca mendalam kini menurun; budaya “scroll cepat” membuat kemampuan interpretasi siswa melemah. Inilah alasan perlunya pendekatan baru yang menggabungkan teknologi dengan kedalaman berpikir.
Materi ini menawarkan tiga pilar pembelajaran sastra yang relevan untuk konteks sekarang:
Sastra siber perlu dibangun ulang agar pendidikan dapat menjembatani teknologi dan kemanusiaan. Pembelajaran sastra bukan hanya tentang teks, tetapi tentang membentuk manusia yang kritis, imajinatif, dan etis di tengah dunia digital yang terus berkembang.
Ketiga materi yang disampaikan menggambarkan bahwa pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia harus bergerak sejalan dengan perkembangan dunia digital. Dr. Adita menekankan pentingnya menghidupkan kembali budaya lokal—seperti cerita rakyat Galunggung—melalui pendekatan seni (ABER) agar lebih relevan bagi generasi digital. Dr. Tato menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa dan sastra perlu memperkuat pemahaman mendalam melalui deep learning dan memanfaatkan AI untuk meningkatkan kreativitas, motivasi, dan kemampuan analisis siswa. Sementara itu, Dr. Enung menegaskan bahwa sastra siber menjadi jembatan antara teknologi dan kemanusiaan, yang membutuhkan tiga pilar utama: membaca mendalam, kreasi multimodal, dan literasi AI yang etis.
Secara keseluruhan, ketiga materi ini mengarah pada satu gagasan besar: pendidikan bahasa dan sastra masa kini harus memadukan warisan budaya, kreativitas seni, literasi digital, dan teknologi berbasis AI untuk membentuk generasi yang kritis, kreatif, dan humanis di era digital dan Society 5.0.