Perbedaan yang akan dibahas yaitu bahasa. Orang Sunda biasanya memiliki bahasa atau cara pengucapan yang lebih lembut, halus, dan pelan sekali jiga berbicara. Sedangkan di Minang, atau bisa dibilang Sumatera, cara berbicaranya lebih tegas, keras, dan cenderung seperti orang sedang marah, padahal tidak sedang marah sama sekali. Itu hanya cara berbicaranya saja.
Seperti contoh, ada beberapa teman saya yang bilang kalau cara berbicara saya itu terlalu kencang. Padahal saya merasa itu normal karena mungkin kebiasaan yang diturunkan dari keluarga Minang saya tanpa saya sadari itu menurun ke saya.
Perbedaan budaya kedua yaitu tentang merantau. Orang Minang sudah menjadi tradisi kalau merantau itu dan sudah seperti kewajiban untuk mencari penghasilan lebih dan mencari kesuksesan. Kebanyakan laki-laki, tetapi perempuan pun ada, lebih banyak merantau keluar dari kampung halaman.
Contohnya, bapak dan mamah saya merantau dari Sumatera Barat atau Padang ke Jawa Barat, yaitu ke Bandung.
Sedangkan di Sunda, seperti pepatah yang saya pernah dengar yaitu, "ulah jauh-jauh di jugjug", kalau tidak salah itu kata-katanya, yang artinya jangan keluar, tinggal saja di kampung halaman sendiri. Dan yang saya lihat, memang ada beberapa orang Sunda yang lebih suka menetap di tanah kelahirannya sendiri daripada harus pergi jauh.
Perbedaan budaya yang ketiga yaitu warisan. Di budaya Sunda biasanya warisan mengikuti syariat Islam tentang pembagian harta warisan. Sedangkan di Minang, pembagian harta warisan akan lebih banyak kepada anak perempuan ketimbang laki-laki.
Perbedaan budaya yang keempat yaitu dari cita rasa makanan. Di Minang identik dengan cita rasa makanan yang pedas, bersantan, dan berbumbu sangat pekat dengan rempah-rempahnya. Sedangkan di Sunda, cita rasa makanannya lebih ke manis dan gurih.
Izinkan saya bercerita sedikit. Saya lahir dan besar di Bandung, atau bisa dibilang Jawa Barat, tetapi orang tua saya, yaitu bapak dan mamah saya, berasal dari Sumatera Barat atau bisa dibilang Padang. Dari situlah saya berani mengambil tema ini karena saya ada keturunan dari Sumatera Barat, dan saya mewawancarai narasumbernya langsung, yaitu keluarga saya sendiri.
Sebetulnya ini krisis bagi saya yang lahir di Bandung tetapi dibesarkan oleh kedua orang tua saya yang berasal dari Minang. Saya merasa krisis identitas dan bahasa. Saya ini sebetulnya orang Bandung kah atau Padang? Dari segi bahasa, orang tua saya mengajarkan tiga bahasa sekaligus, yaitu Padang, Indonesia, dan Sunda.
Tapi jika ditanya saya lebih nyaman berbahasa menggunakan bahasa apa, saya akan menjawab yaitu Indonesia, karena bahasa Indonesia lebih nyaman digunakan oleh saya daripada bahasa Minang yang saya terkadang salah dalam logat atau pengucapannya. Begitupun bahasa Sunda yang menurut saya lumayan membuat saya kadang takut sekali untuk berbicara bahasa Sunda karena ada beberapa bahasa yang artinya luas dan pengucapannya berbeda-beda.
Walaupun dari lahir saya di Bandung, tetapi pasti ketakutan dalam berbicara bahasa Sunda itu ada. Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan. Tetapi saya juga berbicara dengan keluarga saya bercampur bahasa Sunda, Indonesia, dan Padang. Bersama teman pun saya berbicara menggunakan bahasa Sunda dan Indonesia.
Tapi itu bukan menjadi sebuah perdebatan yang hebat bagi saya. Itu hanya pertanyaan yang terkadang terlintas di pikiran. Intinya, kita masih sama-sama manusia ciptaan Allah dan perbedaan itu hanya sebuah variasi saja agar tidak terlalu monoton dalam hidup.
Dari semua perbedaan budaya di atas, bukan berarti menjadi kegaduhan atau perpecahan, tetapi itu bisa dijadikan untuk saling menghargai dan menghormati tradisi atau budaya dari masing-masing daerah.
Perbedaan budaya Sunda dan Minang juga mengajarkan bahwa setiap budaya dapat hidup berdampingan dengan baik tanpa harus menghilangkan ciri khas masing-masing.