Penggunaan Teknologi Ai Untuk Mengembangkan Pola Pikir kritis dan Kreatif Dalam Proses Pembelajaran| Resume Kuliah Umum Bersama Prof.Stella Chrishtie,Ph.D.
Penggunaan Teknologi Ai Untuk Mengembangkan Pola Pikir kritis dan Kreatif Dalam Proses Pembelajaran| Resume Kuliah Umum Bersama Prof.Stella Chrishtie,Ph.D.

Kuliah umum bersama Prof. Stela membahas pemanfaatan teknologi AI untuk mengembangkan pola pikir kritis dan kreatif dalam pembelajaran, termasuk bagi siswa sekolah dasar. AI dinilai bermanfaat karena mampu menyediakan materi dan latihan dalam jumlah besar, membantu latihan adaptif, dan memungkinkan pengalaman belajar yang lebih nyata melalui teknologi seperti Virtual Reality. Namun, AI memiliki sifat ganda: dapat membuat belajar lebih aktif, tetapi juga berpotensi menjadikan siswa pasif jika digunakan tanpa kontrol. Karena itu, penggunaan AI harus mengikuti prinsip *“just right”*, yaitu memberikan tantangan yang cukup menantang tetapi tetap dapat diatasi. Prof. Stela menekankan bahwa tidak semua proses belajar sebaiknya melibatkan AI, terutama ketika interaksi sosial diperlukan. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa kemampuan bahasa anak berkembang optimal melalui interaksi langsung, bukan melalui rekaman audiovisual. Ini menunjukkan bahwa teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran interaksi manusia dalam belajar. Penggunaan AI perlu diimbangi dengan pemahaman tentang cara manusia belajar: aktif, sosial, dan berbasis pengalaman. Pendidikan pada era AI tidak lagi dapat hanya berfokus pada konten karena konten mudah diakses. Guru harus menekankan proses berpikir, pemecahan masalah, kolaborasi, dan kreativitas. Dengan 87 persen pelajar menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, pendidik perlu menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar tetap relevan dan memastikan bahwa siswa mengalami proses berpikir secara langsung dan mendalam. Dengan pemanfaatan AI yang bijak dan berbasis bukti ilmiah, pendidikan dapat tetap bermakna di tengah perkembangan teknologi.

Tugas Matakuliah Strategi Penyusunan dan Publikasi Karya Ilmiah 

Dosen Pengampu : Diena San Fauzia, M.Pd.

Nama: Selvia Risnawati ( 222210031)
Kelas : A1 PBSI 2022

    Kuliah umum bersama Prof Stela ini membahas bagaimana teknologi AI dapat digunakan untuk mengembangkan pola pikir kritis dan kreatif dalam proses pembelajaran, termasuk pada siswa sekolah dasar seperti kelas 3. Teknologi AI dinilai mampu membantu anak belajar sambil tetap memahami budaya, berlatih mandiri, dan mengambil hal-hal positif dari perkembangan teknologi. Banyak siswa kini sudah memanfaatkan AI, bahkan ada yang mampu meraih nilai tinggi seperti 37,4 dari 40 ketika memakainya secara tepat. Menurut Prof. Stella, AI memberikan manfaat besar dari segi jangkauan dan skala, karena memungkinkan penyediaan materi dan latihan dalam jumlah banyak. Namun, penting untuk mempertanyakan apakah AI juga dapat meningkatkan kualitas belajar. Dalam banyak kasus, AI dapat membantu menerapkan konsep yang sudah dipelajari siswa, misalnya melalui latihan adaptif yang mengukur kemampuan anak dalam berbagai konteks berbeda. Teknologi seperti Virtual Reality juga memungkinkan pengalaman belajar yang lebih nyata. Meski demikian, AI memiliki sifat ganda: ia dapat membuat belajar lebih aktif, tetapi juga bisa menjadikan anak pasif, sehingga perlu keseimbangan. Pembelajaran tetap harus mengikuti prinsip “just right”, yaitu memberi tantangan yang sedikit sulit namun tetap bisa diatasi.
  Di sisi lain, ada saat-saat ketika pendidik sebaiknya tidak menggunakan AI, terutama ketika interaksi sosial dibutuhkan. Interaksi manusia merupakan kunci dalam proses belajar dan tidak dapat digantikan oleh teknologi. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa bayi lahir dengan kemampuan membedakan bunyi semua bahasa, namun kemampuan ini hilang ketika usia 9–12 bulan jika tidak diperkaya interaksi sosial langsung. Paparan melalui rekaman audiovisual tidak mampu menjaga kemampuan tersebut, sehingga menunjukkan bahwa pembelajaran tidak dapat hanya mengandalkan teknologi. Karena itu, dalam menentukan kapan menggunakan dan tidak menggunakan AI, pendidik perlu mempertimbangkan manfaat AI dari sisi skala, namun tetap mengutamakan kualitas belajar berdasarkan pemahaman tentang cara manusia belajar: aktif, sosial, dan berbasis ingatan. Penggunaan AI yang tepat harus didukung bukti empiris dari sains kognitif, serta membutuhkan kerja sama antara guru, peneliti, dan pengembang teknologi.

 

     Pendidikan di era AI tidak boleh hanya berfokus pada konten, karena konten kini mudah ditemukan. Pendidikan harus dilihat sebagai proses yang menekankan pembentukan cara berpikir, kemampuan memecahkan masalah, kolaborasi, dan pengembangan kreativitas. Data dari Menkominfo menunjukkan bahwa 87 persen pelajar menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, sehingga pendidik perlu menyesuaikan pendekatan mereka. Pertanyaan reflektif yang perlu dijawab adalah apakah tugas sekolah saat ini lebih mengasah proses atau hanya sekadar konten. Di tengah perubahan pesat karena AI, guru perlu menciptakan kesempatan belajar yang memungkinkan siswa mengalami proses berpikir secara langsung dan mendalam. Dengan demikian, pendidikan dapat tetap relevan dan bermakna meskipun teknologi terus berkembang.