Sawala Tilu Series 2: Wawasan Baru untuk Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran di Era Digital
Sawala Tilu Series 2: Wawasan Baru untuk Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran di Era Digital

Webinar Sawala Tilu Series 2 yang diselenggarakan ADOBSI Jabar menghadirkan tiga pemateri yang membahas perkembangan bahasa, sastra, dan pembelajaran di era digital. Dr. Adita Widara Putra menekankan perlunya menghidupkan kembali cerita rakyat Galunggung melalui pendekatan ABER agar sastra lisan dapat disajikan dalam bentuk multimedia yang lebih menarik bagi generasi muda. Selanjutnya, Dr. Tato Nuryanto menyoroti pentingnya literasi digital dan konsep deep learning dalam membekali generasi saat ini. Ia menilai bahwa sastra digital serta teknologi AI mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, personal, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Pemateri terakhir, Enung Nurhayati, M.A., Ph.D., menegaskan perlunya rekonstruksi sastra siber dalam pendidikan Society 5.0. Ia menawarkan model pedagogis berbasis deep reading, multimodal creation, dan ethical AI literacy untuk membentuk pembelajar yang kreatif, kritis, dan beretika dalam memanfaatkan teknologi. Secara keseluruhan, webinar ini memberikan berbagai perspektif baru tentang bagaimana pembelajaran bahasa Indonesia dapat beradaptasi dan berkembang di tengah perubahan digital yang pesat.

Tugas Mata Kuliah Strategi Kepenulisan dan Publikasi Karya Ilmiah
Dosen Pengampu: Diena San Fauzia, M.Pd.

Nama: Selvia Risnawati (22210031)

Kelas: A1 PBSI 2022

Webinar Sawala Tilu Series 2 yang diselenggarakan ADOBSI Jabar pada 29 November 2025 melalui Zoom berlangsung sukses dan sarat gagasan segar. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber yang mengulas perkembangan bahasa, sastra, dan pembelajaran Indonesia dalam menghadapi era digital.

Pembicara pertama, Dr. Adita Widara Putra dari FKIP Universitas Siliwangi, memaparkan pentingnya menghidupkan kembali cerita rakyat Galunggung melalui pendekatan Arts Based Educational Research (ABER). Ia menyoroti menurunnya ketertarikan generasi muda terhadap sastra lisan yang kini tersaingi budaya digital. Menurutnya, ABER dapat menjadi sarana kreatif untuk mentransformasikan cerita rakyat menjadi karya seni multimedia seperti musikalisasi puisi atau video. Pendekatan ini dianggap mampu menghadirkan pembelajaran bahasa yang sesuai dengan kebutuhan multiliterasi siswa masa kini.

Pemateri kedua, Dr. Tato Nuryanto dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, menekankan perlunya generasi sekarang dibekali literasi digital serta kemampuan berpikir mendalam berdasarkan konsep deep learning. Ia menjelaskan bahwa sastra digital memberikan peluang baru bagi pembaca maupun penulis untuk berinteraksi secara lebih kreatif. Pemanfaatan teknologi digital dan AI dinilai dapat membuat pembelajaran lebih personal, kritis, dan sejalan dengan tuntutan kompetensi abad ke-21.

Pembicara ketiga, Enung Nurhayati, M.A., Ph.D. dari IKIP Siliwangi Cimahi, menegaskan urgensi rekonstruksi sastra siber dalam pendidikan era Society 5.0. Ia menunjukkan perkembangan sastra dari era blog, Wattpad, hingga tulisan berbasis AI, dan memperkenalkan model pedagogis berbasis tiga pilar: deep reading, multimodal creation, dan ethical AI literacy. Model ini dirancang untuk membentuk siswa yang tidak hanya kreatif, tetapi juga kritis dan beretika dalam memanfaatkan teknologi.

Webinar ditutup dengan antusiasme peserta yang merasa memperoleh banyak wawasan baru untuk memperkaya pembelajaran bahasa Indonesia di berbagai jenjang pendidikan. Acara ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan terus bergerak cepat untuk menanggapi tantangan dan perubahan zaman.