Di tengah laju teknologi yang terus menderu, pendidikan bahasa dan sastra berada pada titik krusial: bagaimana menjaga akar budaya tanpa tertinggal dari percepatan digital? Pertanyaan inilah yang secara tidak langsung dijawab oleh tiga gagasan besar dari Adita Widara Putra, M.Pd., Toto Nuryonto, M.Pd. dan Enung Nurhayati, M.A.Ph.D. Ketiganya membawa benang merah yang samabahwa masa depan literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi kemampuan menafsirkan dunia yang serba multimodal, serba cepat, dan serba digital.
Adita Widara Putra menawarkan strategi kreatif melalui Arts Based Education Research (ABER) sebagai cara menghidupkan kembali cerita rakyat Galunggung. Ia menekankan bahwa cerita rakyat tidak boleh hanya menjadi teks masa lalu, tetapi harus dipersembahkan ulang dalam bentuk barumelalui drama, musik, seni visual, hingga konten digital yang relevan bagi generasi muda. Dengan ABER, kisah Galunggung bukan hanya dipelajari, tetapi dialami, dirasakan sebagai bagian dari identitas budaya yang terus berdenyut di tengah era multiliterasi yang menuntut literasi visual, auditori, dan digital secara bersamaan.
Sementara itu, Toto Nuryonto memperluas cakrawala dengan gagasan “Membangun Generasi Bahasa dan Sastra Digital.” Ia menegaskan bahwa generasi masa depan harus memiliki dua kompetensi sekaligus: kepekaan pada keindahan bahasa klasik dan kecakapan berkomunikasi di dunia digital yang serba singkat dan multimodal. Dalam pandangannya, bahasa adalah “perangkat lunak utama manusia,” dan sastra adalah “sistem operasi budaya” yang harus terus dijaga eksistensinya. Tantangannya bukan sekadar mengajarkan bahasa, tetapi menyiapkan generasi yang mampu membaca, menganalisis, dan menciptakan narasi digital mulai dari video essay, podcast, web series, hingga bentuk penceritaan interaktif yang lahir dari teknologi baru.
Enung Nurhayati, Ph.D., menutup rangkaian gagasan ini dengan visi futuristik melalui konsep rekonstruksi sastra siber di era Society 5.0. Di era ketika kecerdasan buatan, Internet of Things, dan big data menyatu dalam kehidupan manusia, pendidikan tidak cukup hanya membekali siswa kemampuan literasi standar. Sastra siber dengan bentuk seperti hiperteks, fiksi interaktif, dan narasi multimedia harus direkonstruksi dan diintegrasikan ke dalam ekosistem pendidikan. Tujuannya jelas: membentuk manusia yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi mampu memahami, mengkritisi, dan memberi makna pada teknologi itu sendiri. Sastra siber menjadi medium reflektif yang mengembalikan kemanusiaan di tengah dunia yang semakin dikendalikan algoritma.
Jika digabungkan, ketiga gagasan ini membentuk satu narasi besar: bahwa pendidikan bahasa dan sastra di masa depan harus hibryd menghubungkan warisan budaya, kemampuan linguistik, kreativitas naratif, dan kecakapan digital. Cerita rakyat Galunggung menjadi wadah untuk membumikan identitas lokal; generasi bahasa-sastra digital memastikan keberlanjutan kreativitas di ruang siber; dan rekonstruksi sastra siber menyiapkan landasan etis bagi kehidupan di Society 5.0.
Pada akhirnya, ketiga pendekatan ini mengajarkan satu hal penting: teknologi boleh berubah, tetapi manusia tetap membutuhkan cerita. Selama pendidikan mampu merawat narasi baik lewat seni, media digital, maupun ruang siber maka generasi mendatang tidak hanya akan menjadi pengguna teknologi, tetapi pencipta makna yang membangun peradaban.