Eva Nurhasanah (Memo Qalbu)

Eva Nurhasanah (Memo Qalbu)


Sebuah Catatan Puitis
Sebuah Catatan Puitis "Dalam Senyap"

Tak semua perjuangan harus digelar di atas panggung, tak semua pengorbanan harus disuarakan agar ia tetap bergaung. Karena sering kali, ada sesuatu yang rasanya lebih suci saat dibalut sepi, lebih suci saat disembunyikan dari rendahnya lini penilaian duniawi.

Tak semua perjuangan harus digelar di atas panggung,

tak semua pengorbanan harus disuarakan agar ia tetap bergaung.

Karena sering kali, ada sesuatu yang rasanya lebih suci saat dibalut sepi,

lebih suci saat disembunyikan dari rendahnya lini penilaian duniawi.

 

Maka biarlah tangan dan kaki bergerak tanpa perlu berharap tepuk tangan,

sebab niat yang murni tak pernah haus akan sebuah pengakuan.

Jadi untuk apa mengemis pengakuan pada sesama ciptaan,

jika langkahmu diawasi langsung oleh Sang Pemilik Kehidupan?

 

Dan dalam pekatnya kesunyian itu,

kau justru perlahan membangun pengertian baru.

Serupa akar yang menembus tanah dengan kesenyapannya,

namun begitulah ia senantiasa menjalar dan memberi daya.

 

Kau tumbuh teramat indah di ruang yang tak tersentuh,

merangkai ketangguhan di saat tak ada manusia yang melihatmu luruh.

 

Demikian, perjalanan ini bukan untuk membuktikan siapa dirimu pada keramaian;

melainkan, untuk menyempurnakan bentukmu dalam keheningan.

 

Maka, teruslah melangkah,

meski tak ada mata yang memperhatikan.

Maka, teruslah melangkah,

meski tak ada bibir yang menyanjung pencapaian.

 

Sebab di antara ketidaktahuan manusia,

Sang Pemilik Kehidupan tak pernah lelap,

Ia senantiasa menghitung setiap doa dan upaya,

sekali pun kau tunaikan dalam senyap.

 

Jadi,

cukuplah Tuhan yang menjadi sebaik-baiknya penilai dan saksi;

bahwa dari sunyi yang kau lalui,

jiwamu perlahan mewujud keindahan yang abadi.

 

— Eva Nurhasanah (Memo Qalbu), 2026