Dhea Karunia Ramdhini

Dhea Karunia Ramdhini


Bandung Paris van Java: Romantisme Masa Lalu di Sepanjang Jalan Braga
Bandung Paris van Java: Romantisme Masa Lalu di Sepanjang Jalan Braga

Bandung mempunyai banyak cara dalam membuat orang nyaman jika singah.

Langkah kaki di atas lantai batu andesit Jalan Braga selalu punya cara tersendiri untuk mengetuk pintu kenangan. Sore itu, langit Bandung perlahan berganti warna menjadi jingga keemasan. Bias cahayanya menerpa fasad bangunan berarsitektur Art Deco yang berdiri megah di kanan-kiri jalan. Di sinilah, di sepotong jalan yang menjadi jantung julukan Paris van Java, waktu seolah melambat dan membiarkan romansa masa lalu tetap hidup tanpa lekang oleh zaman.

Braga bukan sekadar jalur penghubung, melainkan sebuah mesin waktu. Dahulu, di awal abad ke-20, jalan ini adalah tempat pamer gaya hidup kelas atas. Para Preangerplanters—sebutan untuk para juragan teh kaya raya—bersama kaum borjuis kolonial kerap berjalan-jalan di sini untuk memamerkan mode pakaian terbaru yang dikirim langsung dari Paris. Atmosfer kemewahan dan keanggunan Eropa masa itu masih menyengat kuat, terperangkap di antara pilar-pilar tinggi, jendela kaca besar, dan balkon-balkon besi tempa yang masih dirawat dengan baik.

Menyusuri Braga hari ini adalah tentang merayakan nostalgia lewat panca indera. Aroma kopi hitam yang pekat bercampur wangi mentega dari panggangan roti kuno menyeruak dari pintu kayu kedai-kedai legendaris. Duduk di salah satu bangku besi di tepi trotoar memberikan sudut pandang yang syahdu. Di depan mata, para pelukis jalanan sibuk menata kanvas-kanvas mereka yang merekam sudut kota, sementara sepasang kekasih berjalan pelan menembus angin sore Bandung yang mulai mendingin.

Saat malam akhirnya jatuh, Braga justru semakin hidup dengan cara yang anggun. Lampu-lampu gantung ikonik di sepanjang trotoar mulai menyala satu per satu, memancarkan pendar kuning yang hangat dan romantis. Sayup-sayup petikan gitar dari musisi jalanan beradu dengan tawa riuh dari dalam kafe-kafe estetik. Jalan Braga malam hari seperti sebuah puisi yang ditulis dengan tinta lampu kota; tempat di mana masa lalu dan masa kini berpelukan erat, mengundang siapa saja untuk datang, singgah, dan jatuh cinta lagi pada Bandung.