Saat Waktu Menguji, Akankah Kita Masih Sama?
Suatu sore, ketika cahaya senja jatuh pelan di beranda, aku menyadari satu hal yang selama ini luput dari perhatian: cinta tidak pernah benar-benar diam. Ia bergerak, berubah, dan diam-diam diuji oleh sesuatu yang tak pernah bisa kita hentikan waktu.
Di hadapanku, seseorang yang dulu begitu kukenal kini tampak berbeda. Bukan asing, hanya tidak lagi sama. Garis halus di wajahnya, cara bicaranya yang melambat, hingga jeda kecil saat mengingat sesuatu semuanya seperti isyarat bahwa waktu sedang bekerja.
Dan tiba-tiba, bait sederhana itu terasa hidup:
Nanti mungkin tua
Ringkih nir tenaga
Masihkah cintamu
Tetap biru menyala?
Dulu, cinta terasa mudah. Kita jatuh tanpa banyak pertimbangan, mencintai tanpa memikirkan “nanti”. Segalanya tampak indah karena belum diuji. Kita menyukai versi terbaik dari seseorang yang kuat, yang cerah, yang penuh harapan.
Namun hidup tidak berhenti di sana.
Hari-hari berlalu, dan tanpa kita sadari, perubahan datang pelan-pelan. Ingatan tak lagi setajam dulu, tenaga tak lagi sama, dan kesabaran mulai diuji oleh hal-hal kecil. Di titik itulah cinta mulai ditanya, bukan oleh orang lain, tetapi oleh keadaan:
Nanti mungkin rapuh
Pelupa dan lamban
Masihkah cintamu
Kan kuat bertahan?
Ini bukan lagi tentang perasaan yang menggebu, melainkan tentang pilihan yang diulang setiap hari. Karena mencintai dalam waktu panjang berarti bersedia melihat seseorang berubah dan tetap memilihnya, bahkan ketika versi terbaiknya mulai memudar.
Waktu memang tidak pernah bernegosiasi.
Waktu akan memakanku
Semua kenangan berlalu
Senja tiba dalam usia
Angka-angka yang merana
Ia mengambil banyak hal yang dulu kita banggakan. Namun anehnya, justru saat itulah cinta menunjukkan wajah aslinya. Tidak lagi bergantung pada penampilan, energi, atau kesempurnaan, melainkan pada ketulusan untuk tetap tinggal.
Aku pernah bertanya dalam diam: apakah ini masih cinta, atau hanya kebiasaan?
Jawabannya datang bukan dari kata-kata, melainkan dari hal sederhana, genggaman yang tidak dilepas, tatap yang tetap mencari, dan kehadiran yang tidak pergi.
Masihkah jernih tatapmu
Meski memudar cahayaku
Apakah kusut kulitku
Tetap nyaman di bahumu?
Di situlah aku mengerti, cinta tidak selalu perlu dibuktikan dengan hal besar. Ia justru hidup dalam hal-hal kecil yang konsisten. Dalam kesediaan untuk tetap mendengar, tetap sabar, dan tetap ada meski tidak lagi mudah.
Tentu, tidak semua hari berjalan tenang. Ada saat lelah datang, emosi meninggi, dan kesalahpahaman terasa lebih berat dari biasanya. Dalam momen seperti itu, cinta tidak terlihat indah. Ia terasa seperti perjuangan.
Namun justru di sanalah maknanya terbentuk.
Masihkah nyaring suaramu..
Meski gigi terkikis, kulit mengerucut..
Apakah masih bisa bersyarat?
Dengan ungkapan hati yang tersirat.
Cinta yang bertahan bukanlah cinta yang sempurna, melainkan cinta yang mau diperbaiki. Yang tidak lari saat sulit, yang tidak menyerah saat berubah, dan yang tidak berhenti hanya karena keadaan tidak lagi sama.
Pada akhirnya, pertanyaan “akankah kita masih sama?” memang tidak pernah benar-benar membutuhkan jawaban.
Karena kita tidak akan sama.
Kita akan menua, berubah, bahkan mungkin kehilangan banyak hal yang dulu kita anggap penting. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tetap bisa kita pilih: tetap bersama.
Dan mungkin, itulah bentuk cinta yang paling jujur, bukan yang paling indah di awal, tetapi yang paling setia hingga akhir.